Alternatif Liburan, Sejumlah Mahasiswa Universitas Malang Datangi Museum Sekitar

SURYA.co.id – Mengawali perkuliahan semester genap, para mahasiswa di Malang tidak jarang mengisi waktunya dengan bersantai karena secara perkuliahan belum padat seperti biasa.

Menikmati waktu lebih lama untuk ngopi karena tugas belum bertumpuk bisa menjadi pilihan. Pilihan lain adalah mengunjungi museum.

Salah satu museum yang patut dikunjungi adalah Museum Pendidikan di Universitas Negeri Malang (UM) atau biasa dikenal dengan Museum UM.

Beberapa mahasiswa UM dan masyarakat umum terlihat menikmati museum pendidikan itu, Rabu (22/1/2020).

Itu juga yang dilakukan A Mustofa dan kawan-kawannya yang mengunjungi museum yang berada di selatan gedung rektorat itu.

“Lagi cari penyemangat untuk memasuki awal perkulihan ini, akhirnya ke museum,” ungkap mahasiswa UM itu.

Menurutnya, dengan melihat perjuangan para pendiri UM mampu memompa semangat untuk melanjutkan perjuangan itu.

Itu cukup baik baginya untuk mengawali perkulihan yang telah dimulai Senin lalu.

“Berjalan-jalan ke museum UM selain refreshing juga sebagai pemanasan masuk kuliah,” ungkap mahasiswa pascasarjana itu.

Banyak informasi yang cukup menarik tersimpan dalam museum UM terutama bisa mengetahui awal berdirinya UM hingga informasi terkait tokoh-tokoh dunia pendidikan nasional yang ternyata banyak lahir di UM.

Salah satu tokoh yang berkesan baginya adalah adanya informasi tentang Supartinah Pakasi.

Dia guru besar Ilmu Pendidikan UM yang mencetuskan metode belajar membaca dan menulis i-in dan a-an yang cukup legendaris.

Menurutnya menarik karena metode itu umum dilakukan di sekolah-sekolah di Indonesia, salah satunya ketika dia masih SD dulu.

“Setelah datang ke museum ini baru tahu dan takjub. O…, jadi yang menemukan metode i-in a-an itu beliau,” terang mahasiswa asal Lumajang itu.

Lain lagi dengan Firdausya, mahasiswa Bahasa Indonesia.

Ia takjub melihat beberapa penemuan karya dari Suwojo Wojowasito yang dipajang di museum UM.

Suwojo yang merupakan guru besar bahasa itu pun banyak menelurkan kamus-kamus populer maupun umum Bahasa Inggris-Indonesia yang kerap dipakai masyarakat Indonesia pada 1980-an.

“Kamus Kawi-Indonesia karya Suwojo juga ditampilkan di museum ini. Semakin takjub dengan beliau,” ujarnya.

Melalui karya-karya maestro di bidang ilmu pengetahuan di Museum Pendidikan itu, Firda menerangkan, itu bisa menjadi pelecut semangat agar ikut berkaya seperti para pendahulu-pendahulu UM.

Terlebih lecutan itu pun menjadi dampak positif baginya ketika hendak memasuki dunia perkuliahan semester genap nanti.

“Tambah semangat jadinya setelah lihat karya-karya guru besar yang di tampilkan itu,” tegas Firda.

Artikel: Moh Fikri Zulfikar Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia Pascasarjana Universitas Negeri Malang fikrizulfikar982@gmail.com

Sumber dari: https://surabaya.tribunnews.com/2020/01/25/alternatif-liburan-sejumlah-mahasiswa-universitas-malang-datangi-museum-sekitar?page=all