Pasien Jalani Pengobatan sambil Tetap Bebas Bermain – Radar Malang Online

Belum adanya metode terapi yang paling efektif bagi anak-anak penderita attention deficit hyperactivity disorder atau ADHD mendasari penelitian tiga mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) ini. Ketimbang alat terapi konvensional, Gempur Riadis Sholikhin, Evita Rosyani Putri, dan Fia Nurfitriana memilih menggunakan sepatu sebagai media terapi. Seperti apa cara kerjanya?

FARIK FAJARWATI

Memiliki buah hati yang menyandang ADHD menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua, baik secara psikologis maupun secara materi.

Berbeda dengan anak normal, penderita ADHD relatif lebih sulit mengontrol dirinya sendiri sehingga perlu perhatian ekstra bagi orang-orang di sekelilingnya.

Stigma inilah yang ingin dipatahkan tiga mahasiswa Universitas Negeri Malang, Gempur, Evita, dan Fia, dengan temuannya.

Pasien Jalani Pengobatan sambil Tetap Bebas Bermain - Radar Malang Online

Jika sebelumnya orang tua maupun anak penderita ADHD harus merelakan waktu, biaya, dan tenaga untuk melakukan terapi, dengan sepatu terapi kreasi mereka, para orang tua dan anak dengan ADHD bisa melakukan terapi di mana pun dan kapan pun.

Alat tersebut diberi nama Magic Shoes Therapy for ADHD Children atau Master Orchid. Sesuai dengan namanya, desain sepatu Master Orchid tak jauh berbeda dengan sepatu anak-anak pada umumnya.

Hanya saja, karena dibuat untuk terapi, ada beberapa fungsi tambahan yang disematkan di Master Orchid. Produk yang telah lolos pendanaan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) pada April lalu tersebut bisa digunakan sebagai alat terapi musik bagi penyandang ADHD.

”Alat terapinya ditaruh di bagian sepatu yang tersambung lewat jaringan bluetooth di headset. Dari situ musik akan mengalun lewat frekuensi yang diatur sesuai dengan kebutuhan anak yang mengalami ADHD,” kata Gempur Riadis Solikhin, salah satu pencetus Master Orchid.

Mahasiswa Jurusan Teknik, Fakultas Pendidikan Teknik Elektro, Universitas Negeri Malang, itu menuturkan, musik sudah dipergunakan sebagai salah satu terapi bagi penderita ADHD.

Hanya saja, selama ini untuk melakukan terapi tersebut yang bersangkutan harus datang ke tempat terapi khusus dan menjalani terapi dalam jangka waktu tertentu. ”Si anak harus berdiam di satu ruangan sambil mendengarkan musik dan orang tuanya pun harus menunggu,” kata Gempur.

Menurut dia, cara ini kurang efisien karena dari segi materi memakan biaya yang cukup besar dan dari segi waktu juga banyak yang terbuang.

Belum lagi pandangan sosial masyarakat yang sampai sekarang masih menanamkan stigma bahwa anak-anak dengan kebutuhan khusus tersebut statusnya di bawah anak normal.

Dengan menggunakan Master Orchid, sambung Gempur, terapi bisa dilakukan kapan pun dan di mana pun. Selain kantong alat terapi yang berada di sisi sepatu, Master Orchid tak ubahnya sepatu yang biasa digunakan untuk beraktivitas sehari-hari.

Ditambah lagi dengan headset portable yang desainnya juga sudah sangat lumrah digunakan anak-anak. Mereka bisa menggunakannya sambil melakukan aktivitas sehari-hari termasuk bermain.

”Dari sisi kemanusiaannya, dengan alat ini, baik orang tua maupun anak yang menderita ADHD, juga tidak akan mendapat perlakuan berbeda dengan anak normal lainnya, karena orang lain bahkan tidak tahu kalau anak tersebut sedang menjalani terapi,” beber pemuda asal Trenggalek tersebut.

Pun dari aspek ketepatan frekuensi. Sebab, poin utama yang dilakukan sepanjang terapi adalah menyalurkan gelombang dalam frekuensi yang tepat. Dengan penggunaan headset, frekuensi gelombang yang dibutuhkan untuk terapi bisa diatur lebih akurat.

Untuk menuntaskan produk penelitiannya, kolaborasi antara mahasiswa teknik dan psikologi tersebut tentu saja mempunyai banyak  tantangan yang harus mereka hadapi. ”Pertama, tidak banyak orang tua yang berkenan anaknya menjadi bahan uji coba alat ini,” tambah Gempur.

Namun sebelum lolos pendanaan, alat ini telah diujicobakan ke beberapa penyandang ADHD, mulai di tingkat TK sampai SD. Hasilnya, di bawah pengawasan terapis dan psikolog, Master Orchid berhasil membuat gerakan anak penyandang ADHD lebih terkontrol.

Beberapa catatan yang masih perlu diperbaiki, masih kata Gempur, di antaranya terkait dengan penambahan fitur dalam alat terapi. ”Kalau dikembangkan kami masih bisa menambah fitur GPS sehingga orang tua sekaligus bisa memantau posisi anaknya,” tambah pemuda berusia 20 tahun tersebut.

Perbaikan lainnya yakni dari sisi estetika. Jika dibuat dengan lebih sederhana lagi, Gempur dan rekan satu timnya berharap nantinya alat terapi tersebut bisa dipasang di sepatu konvensional juga.

Seperti namanya, ADHD merupakan salah satu jenis kelainan berupa gangguan mental. Dalam kasus ini, penderita ADHD mengalami kesulitan untuk memusatkan perhatian, cenderung berperilaku impulsif atau melakukan tindakan tanpa memikirkan konsekuensinya terlebih dahulu. Gejala yang paling kentara yakni penderita tidak bisa diam dan selalu ingin bergerak.

Sampai saat ini, belum ada obat yang diklaim bisa menyembuhkan kelainan ini. Yang bisa dilakukan orang tua untuk anaknya sejauh ini masih terbatas pada terapi seperti terapi perilaku, membaca, dan salah satunya dibantu dengan beberapa jenis obat.

Namun, seperti diketahui, penggunaan zat kimia dalam jangka waktu yang lama tentunya juga akan berdampak terhadap organ tubuh tertentu. Karena itu, lewat sepatu Master Orchid hasil kreasi trio mahasiswa UM ini, diharapkan bisa menjadi terobosan baru terapi untuk anak dengan ADHD.

Hingga kini, belum diketahui secara pasti apa yang menjadi penyebab munculnya kelainan ADHD. Namun, dari hasil penelitian sementara, kelainan gangguan mental tersebut banyak dipengaruhi karena faktor genetik dan lingkungan.

Jika tidak mendapat penanganan yang benar, kelainan ADHD yang terjadi pada anak-anak bisa terbawa sampai usia dewasa.

Sumber dari: https://radarmalang.jawapos.com/pasien-jalani-pengobatan-sambil-tetap-bebas-bermain-radar-malang-online/

Leave a Reply