Menyinggahi Situs Purbakala di Gunung Pawitra, Jalur Tamiajeng Paling Sering Dipilih Para Pendaki

SURYA.co.id |Gunung Pawitra adalah penyebutan nama kuno dari Gunung Penanggungan yang berada di perbatasan dua kabupaten, yaitu di sisi barat Kabupaten Mojokerto dan di sisi timur Kabupaten Pasuruan, berada di Provinsi Jawa Timur.

Gunung ini memiliki ketinggian 1.653 meter di atas permukaan laut.

Pesona keindahan alam dan peninggalan bersejarah masa Indonesia Kuno (kerajaan) menjadi keunikan tersendiri yang membedakan dengan gunung yang lain.

Mendaki gunung itu bisa melalui empat jalur, yaitu jalur dari arah Tamiajeng, Jalatunda, Trawas, dan Ngoro.

Jalur Tamiajeng yang paling sering dilewati pendaki karena jalur ini tidak terlalu ekstrem dan santai sehingga jalur ini cocok untuk para pendaki pemula. Biaya masuknya Rp 8.000 dan tiket parkir sepeda motor Rp 5.000.

Mahasiswa Sejarah dari Universitas Negeri Malang (UM), tahun lalu melakukan pendakian ke Gunung Pawitra.

Mereka terdiri atas tiga laki-laki dan tiga perempuan.

Sebelum melakukan perjalanan, para pendaki membagi tugas peralatan yang hendak dibawa. Peralatan berat seperti tenda, nesting, dan matras yang disiapkan oleh Ifan dan Ahmad, sedangkan peralatan ringan disiapkan oleh Alyssa, Ramadani, dan Indah.

Pendakian itu dikoordinatori oleh Sholehuddin. Pendakian ini dilakukan ketika jadwal kuliah aktif sehingga saat itu koordinator pendakian memberi saran untuk melakukan pendakian pada akhir pekan, Sabtu (19/11/2019) supaya tidak mengganggu perkuliahan.

Perjalanan dimulai pada siang hari melalui jalur Jalatunda dengan estimasi perjalanan 8 jam sampai pada lembah ilalang atau lapangan yang biasa dijadikan tempat camping.

Sebagai gunung purba, Penanggungan memiliki banyak situs-situs sejarah yang terhampar sepanjang jalur pendakian.

Perjalanan itu sekaligus menjadi kegiatan observasi situs yang kebanyakan merupakan bangunan candi.

Selama perjalanan rombongan menjumpai situs Candi Bayi, Candi Putri, Candi Gentong, dan Candi Shinta yang terawat dalam kondisi sangat baik.

Meskipun beberapa artefak penting seperti keterangan orientasi bangunan sudah tidak ada, namun candi-candi memiliki tatanan yang rapi.

Ketika pukul 20.00 pendakian akhirnya sampai di lapangan. Tenda mulai didirikan dan memasak makanan untuk mengobati rasa lelah.

Setelah sekian jam beristirahat para pendaki melanjutkan pendakian di pagi hari dengan memulai summit atau perjalanan menuju ke puncak.

Perjalanan hanya ditempuh sekitar 10 menit karena dekatnya lokasi tenda dengan puncak.

Pemandangan di puncak memanglah tujuan dari setiap pendakian, namun pemandangan selama mendaki di sore hari yang ditemani senja merupakan pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan.

Apalagi ketika mendirikan tenda di lapangan dekat puncak, terhampar kerlap-kerlip lampu Kota Mojokerto dari ketinggian yang sangat memanjakan mata.

Perjalanan turun dilakukan pada siang hari dan tidak lupa untuk mengabadikan situs-situs candi dengan berfoto.

Kegiatan dokumentasi peninggalan sejarah ini dapat dimanfaatkan untuk kajian analisis pembelajaran di kalangan pelajar dan umum.

Salah satu anggota yang pernah melakukan pendakian Gunung Penanggungan, Ahmad menyebutkan jalur Jalatunda itu merupakan jalur kuno yang jarang dilalui oleh para pendaki karena tingkat kesulitan medannya.

Itu berbeda dengan jalur Tamiajeng yang populer di kalangan pendaki.

Namun, jalur Jalatunda tetap digemari karena berbagai situs peninggalannya seperti situs Petirtaan Jalatunda.

Pendakian memang membuat orang semakin dekat dengan alam dan menambah rasa syukur kepada Tuhan, terlebih lagi saat usai melakukan pendakian itu.

Rombongan pendaki menggunakan media sosial pribadi untuk mengunggah beberapa pemandangan dan situs yang ditemui selama perjalanan pendakian.

Itu memberi tahu khalayak umum jika keberadaan situs yang ada di gunung juga perlu mendapatkan perawatan dan jangan dilupakan sebagai warisan budaya.

Artikel: Imas Alyssa/Mahasiswa Jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang/bebidin16@gmail.com

Sumber dari: https://surabaya.tribunnews.com/2020/07/22/menyinggahi-situs-purbakala-di-gunung-pawitra-jalur-tamiajeng-paling-sering-dipilih-para-pendaki?page=all