Versi Dikti, Peringkat UB Merosot

Published on Monday, 20 August 2018 22:14

MALANG – Peringkat Universitas Brawijaya (UB) versi Kemenristekdikti merosot, tahun ini. Pasalnya dari peringkat delapan, UB harus rela berganti posisi dengan Universitas Hasanuddin dan berada di peringkat 12. Meski masih berada di klaster satu, namun turun empat tingkat menjadi evaluasi tersendiri bagi UB untuk kembali eksis menjadi jajaran perguruan tinggi terbaik di Indonesia.

“Rektor langsung memanggil jajaran fakultas dan tim pemeringkatan tadi pagi, (kemarin,Red) untuk segera menindaklanjuti hal ini. Perguruan tinggi lain juga mengalami peningkatan, sehingga ini yang kadang membuat UB terlena,” ujar Pusat Pemeringkatan UB, Ir Agus Suharyanto MEng PhD kepada Malang Post, kemarin.

Untuk memperbaiki kembali posisi, UB juga berpikir bagaimana cara dan formulasi yang tepat. Selain itu, tim pemeringkatan tentu saja langsung menganalisis dan melihat parameter Dikti. Agus menjelaskan, tahun ini aspek penilaian mengalami penambahan pada aspek inovasi yang berhubungan dengan temuan-temuan baru perguruan tinggi dengan tingkat persentase 5%.

“Saat dianalisis, ternyata data penelitian belum terintegrasi dengan baik melalui data base Dikti. Jumlah penelitian yang sudah dipublikasi juga terbilang masih kurang,” terangnya.

Penilaian pada aspek kelembagaan yakni kualitas SDM terbilang menurun. Jika tahun lalu 30% sekarang hanya 25%. Dalam pertemuan intern, seluruh fakultas harus menyiapkan program yang juga memacu dosen dan mahasiswa asing, salah satunya melalui three in one.

“Targetnya kembali minimal 10 peringkat, sebab dulu UB sempat diperingkat enam. Saat ini, Unhas dan Undip mulai melejit,” ungkap Agus.

Sementara itu, Ketua LP3M UB, Ir Achmad Wicaksono MEng PhD mengaku prodi yang terakreditasi A memang masih belum sampai 50%. Selama ini LP3M rutin melakukan pendampingan untuk mempercepat proses akreditasi. Proses tersebut bukan sekadar kelengkapan pengumpulan dokumen saja, melainkan perbaikan SDM, rasio dosen dan mahasiswa yang tentu membutuhkan waktu lama.

“Prodi yang terakreditasi A di UB baru sekitar 46%, kami memiliki target sampai akhir tahun 2020 dapat naik mencapai 60%,” tegas Soni.

Setiap tahun, komponen penilaian pada seluruh perguruan tinggi dalam pemeringkatan Dikti selalu mengalami perubahan. Tahun ini saja, Dikti menambahkan kerjasama dan akreditasi internasional masuk sebagai komponen penilaian. Sementara di UB, setidaknya sudah ada 19 prodi yang terakreditasi internasional.

“Dengan adanya pemeringkatan ini menjadi pacuan untuk kembali introspeksi, evaluasi dan terus memperbaiki diri, dengan melihat apa saja yang kurang untuk diperbaiki,” tuturnya.

Berbeda dengan UB, UM justru mengalami kenaikan peringkat tahun ini. Tahun lalu, UM berada di peringkat 15 tetapi sekarang menjadi peringkat 14 dan berada di klaster pertama perguruan tinggi di Indonesia. Wakil Rektor 1 UM, Prof Dr Budi Eko MEd MSi menanggapi bangga atas capaian UM.

Dalam meningkatkan peringkat, UM terus bergerak dalam meningkatkan publikasi ilmiah bereputasi dan memperkuat kerjasama antar perguruan tinggi baik di dalam maupun luar negeri. Termasuk meningkatkan rasio dosen bergelar S3 dan mendorong studi lanjut ke S3 luar Negeri harus terus dilakukan.

Begitupun dalam memajukan PUI (Pusat Unggulan Institusi) UM menjadi hal yang penting dilakukan melalui kolaborasi penelitian dengan para peneliti di luar negeri untuk menghasilkan karya bersama.

“Kami tidak boleh lengah dan berpuas diri dengan keberhasilan ini. Secara umum upaya mempertahankan prestasi di klaster satu lebih sulit dari pada meraihnya. Untuk itu, harus banyak publikasi ilmiah bereputasi yang harus dihasilkan,” tutup Budi. (ita/oci)

Sumber dari: https://malang-post.com/pendidikan/versi-dikti-peringkat-ub-merosot

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *