UM Perkuat Kolaborasi Global Selatan Melalui Workshop Afrasia Programme
UM Perkuat Kolaborasi Global Selatan Melalui Workshop Afrasia Programme
:quality(50)/photo/2026/05/07/afrasia-1jpg-20260507011440.jpg)
UM melalui LPPM kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat kolaborasi global selatan melalui kegiatan Afrasia Programme Validation and Shareholders Strategic Engagement Workshop yang digelar pada Rabu (6/5
Malang, Sonora.ID – Universitas Negeri Malang (UM) melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat kolaborasi global selatan melalui kegiatan Afrasia Programme Validation and Shareholders Strategic Engagement Workshop yang digelar pada Rabu (6/5) di Aula Graha Rektorat lantai 9.
Forum ini menjadi langkah strategis bagi UM untuk mendorong lahirnya riset lintas negara yang tidak hanya unggul dari sisi akademik, tetapi juga mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Di tengah perkembangan dunia yang semakin kompleks, kolaborasi antarnegara berkembang dinilai menjadi salah satu kunci penting untuk menghadirkan solusi bersama terhadap berbagai persoalan global.
Rektor UM, Prof. Dr. Hariyono, M.Pd., menegaskan bahwa peran akademisi saat ini tidak bisa berhenti hanya pada pengembangan ilmu pengetahuan semata. Akademisi juga menargetkan bisa berdampak langsung ke masyarakat.
Menurutnya, hasil riset dan inovasi harus benar-benar mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara langsung.
“Sebagai bangsa dan intelektual, kita memiliki tanggung jawab agar perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi benar-benar memberi dampak langsung. Selama ini, kerja sama negara-negara bagian selatan masih tertinggal dibandingkan negara utara dan barat. Karena itu, forum ini menjadi upaya memperkuat kolaborasi selatan-selatan agar lebih maju dan setara,” ujarnya.
Pernyataan tersebut sekaligus menggambarkan bagaimana pentingnya membangun kerja sama yang lebih seimbang antarnegara berkembang.
Selama ini, dominasi negara-negara maju dalam pengembangan teknologi dan riset global masih cukup besar. Karena itu, forum seperti Afrasia dinilai menjadi ruang penting untuk memperkuat posisi negara global selatan agar lebih mandiri dan kompetitif.
Workshop ini turut menghadirkan akademisi dan peneliti dari berbagai negara seperti Malaysia, Tanzania, hingga Afrika Selatan.
Kehadiran berbagai delegasi internasional tersebut menunjukkan bahwa isu kolaborasi riset lintas negara semakin mendapat perhatian serius.
Program ini juga terhubung dengan UNESCO melalui International Science and Technology Innovation Centre (ISTIC), yang selama ini berperan dalam mengoordinasikan program sains dan teknologi antarnegara berkembang.
Ke depannya, jejaring kerja sama ini ditargetkan dapat menjangkau lebih banyak negara dalam skema kolaborasi global selatan.
Wakil Rektor III UM, Prof. Dr. Markus Diantoro, M.Si., menjelaskan bahwa Afrasia merupakan inisiatif baru yang mulai dirintis sejak tahun lalu dan kini mulai memasuki tahap yang lebih konkret.
“Tiga topik utama yang disepakati adalah kesehatan, air, dan energi karena merupakan kebutuhan mendasar di setiap negara. Riset harus multidisiplin, tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga membawa perubahan sosial yang nyata,” jelasnya.
Tiga isu tersebut dipilih karena dianggap menjadi tantangan global yang masih dihadapi banyak negara berkembang hingga hari ini.
Mulai dari akses air bersih, ketahanan energi, hingga layanan kesehatan yang merata, semuanya membutuhkan pendekatan kolaboratif dan inovatif.
UM juga menegaskan keterlibatannya dalam working package kolaborasi bersama Universiti Teknologi Malaysia (UTM) serta aliansi Global South Research University Alliance (GSRUA).
Kedua platform tersebut menjadi fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan program Afrasia di masa mendatang.
“Untuk soft launching nya nanti diselenggarakan di Cape Town” terang Prof. Markus.
Lalu program ini dijadwalkan mulai memasuki tahap implementasi pada tahun 2027 melalui skema kompetisi riset yang melibatkan puluhan negara mitra.
Nantinya, hasil workshop akan menjadi dasar penyusunan kesepakatan sebelum diimplementasikan secara lebih luas oleh negara-negara peserta.
Menariknya, kegiatan ini juga merefleksikan semangat Konferensi Asia-Afrika yang dulu menjadi simbol solidaritas negara berkembang.
Bedanya, jika dahulu fokus perjuangan lebih banyak pada isu politik dan kemerdekaan, kini semangat tersebut diharapkan berkembang dan berorientasi ke arah kolaborasi ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi.
Melalui penguatan riset kolaboratif ini, negara-negara global selatan diharapkan mampu meningkatkan posisi strategisnya dalam aspek geoekonomi maupun geopolitik dunia.
Dengan kata lain, riset tidak lagi hanya dipandang sebagai aktivitas akademik, tetapi juga sebagai instrumen penting dalam membangun daya saing global.
Inisiatif ini juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 6 tentang clean water and sanitation, SDG 7 mengenai affordable and clean energy, SDG 3 terkait good health and well-being, serta SDG 17 tentang partnerships for the goals.
Melalui penguatan kemitraan internasional dan riset yang berdampak langsung bagi masyarakat, UM menunjukkan bahwa perguruan tinggi tidak hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi juga dapat berperan sebagai penggerak solusi global yang relevan dengan tantangan zaman saat ini. (whyy/ems)
Artikel ini telah tayang di https://www.sonora.id dengan judul “UM Perkuat Kolaborasi Global Selatan Melalui Workshop Afrasia Programme”.
Sumber//: https://www.sonora.id/read/424377402/um-perkuat-kolaborasi-global-selatan-melalui-workshop-afrasia-programme

