Bukan Hanya Mengajar di Kelas: Calon Guru Profesional UM Turun ke Posyandu.
Bukan Hanya Mengajar di Kelas: Calon Guru Profesional UM Turun ke Posyandu.

Membaca Cerita (sumber: Foto Kegiatan)
Biasanya, calon guru profesional identik dengan ruang kuliah, rencana pembelajaran, dan simulasi mengajar di depan kelas. Tapi pagi itu, kami mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Negeri Malang memilih ruang kelas yang berbeda: lantai aula Posyandu Sukorembug di Desa Sidomulyo, Kota Batu, yang dipenuhi tawa anak-anak yang berebut merobek kertas.
Di atas karpet biru, belasan balita duduk melingkar bersama ibu mereka. Seorang mahasiswa membuka buku cerita bergambar, dan dalam hitungan detik semua kepala kecil itu menoleh. Ada yang menunjuk gambar, ada yang mencoba membalik halaman duluan, ada yang hanya menempel di pangkuan ibunya sambil mendengarkan. Inilah pembuka dari workshop “Cerdas Tanpa Gadget” yang digelar tim pengabdian Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi Universitas Negeri Malang bersama kader Posyandu setempat.
Kegiatan hari itu sengaja dirancang sederhana. Tidak ada alat mahal, tidak ada aplikasi. Setelah sesi membaca buku cerita, anak-anak diajak mencabik-cabik kertas. Terdengar sepele, tapi di balik suara krek itu ada latihan otot jari, koordinasi dua tangan, dan sensasi tekstur yang tidak akan pernah didapat anak dari layar datar. Beberapa ibu awalnya ragu karena takut berantakan. Lima menit kemudian, mereka ikut duduk di lantai dan merobek kertas bersama anaknya.
Sesi ketiga berpindah ke bola-bola kecil. Tugasnya: memungut dan memasukkan bola ke dalam wadah. Anak-anak yang paling pemalu pun akhirnya merangkak mengejar bola yang menggelinding. Di sini mereka belajar menggenggam, membidik, dan memperkirakan jarak, keterampilan yang kelak dipakai saat memegang pensil.

Menempel Hewan Sesuai Habitat (sumber: Foto Kegiatan)
Puncaknya adalah permainan menempel hewan sesuai habitat dan makanannya. Ada gambar laut, padang rumput, hewan buas, dan aneka makanan. Anak memilih hewan, lalu menempelkannya di tempat yang tepat sambil ibu bertanya, “Ikannya tinggal di mana?” Dari satu permainan, tiga hal terlatih sekaligus: motorik halus saat menempel, kosakata baru saat menyebut nama hewan, dan kemampuan mengelompokkan yang menjadi fondasi berpikir logis. Inilah yang tim sebut sebagai efek ganda, gerak dan literasi berjalan dalam satu aktivitas.
Agar semangat tidak berhenti di pintu aula, setiap keluarga pulang membawa paket alat stimulasi multisensori untuk digunakan di rumah. Posyandu juga menerima hibah peralatan sirkuit: bola-bola kecil, cone, marker, ring basket mini, dan perosotan kecil.
Barang-barang ini bukan sekadar hadiah. Cone dan marker bisa disusun jadi jalur zig-zag untuk melatih keseimbangan. Ring basket mini melatih koordinasi mata dan tangan. Perosotan kecil memberi pengalaman gerak yang membuat anak mengenali posisi tubuhnya sendiri. Semuanya kini menjadi milik kader Posyandu, tersimpan dan bisa dipakai berulang kali di kegiatan bulanan, bukan habis dalam satu hari.
Yang menarik justru muncul dari data. Sebelum workshop, skor kesadaran orang tua soal bahaya gadget sudah tinggi, rata-rata 3,51 dari skala 4. Artinya warga Sidomulyo sebetulnya sudah paham risikonya. “Awalnya kami menyiapkan materi soal bahaya gadget. Tapi data pretest menunjukkan orang tua di sini sudah sangat paham. Skornya 3,51 dari 4. Jadi kami ubah pendekatannya: bukan lagi menyadarkan, tapi menemani mereka praktik langsung,” kata Chalvin Dwi Nursanjaya, Ketua Pengabdian.
Masalahnya ada di tempat lain. Sidomulyo adalah kawasan florikultura dan agrowisata dengan jam kerja panjang dan tidak menentu. Ponsel dipakai bukan karena orang tua tidak peduli, melainkan karena itu solusi tercepat saat harus menyelesaikan pekerjaan. Yang hilang bukan kesadaran, tapi keterampilan praktis dan waktu. Maka tim menggeser arah kegiatan: dari ceramah soal bahaya layar menjadi latihan langsung bermain bersama anak. Hasilnya terukur. Dari 33 entri dengan 87 persen peserta memiliki anak usia 1–7 tahun, skor kesiapan orang tua naik menjadi 3,96 dan signifikan secara statistik (p = 0,0002). N-Gain mencapai 0,89, masuk kategori tinggi.
Yang lebih konkret: setelah workshop, 61 persen orang tua langsung menyusun rencana aktivitas literasi di rumah, 52 persen merencanakan latihan motorik halus, 48 persen motorik kasar, dan 18 persen stimulasi sensori. Soal gadget, 27 persen menetapkan aturan jam bebas layar, 24 persen menyiapkan aktivitas pengganti, dan 9 persen berjanji ikut mengurangi penggunaan ponsel mereka sendiri agar bisa dicontoh anak.
Tim tidak mengklaim kemenangan mutlak. Skor setelah acara menumpuk di angka maksimal, yang wajar terjadi ketika suasana hati peserta sedang positif. Tidak ada kelompok pembanding, sehingga hubungan sebab-akibat belum bisa dipastikan sepenuhnya. Karena itu workshop ini diposisikan sebagai titik pemantik, bukan garis akhir. Rencana lanjutannya berupa grup WhatsApp edukatif, kartu panduan aktivitas bergambar, dan pendampingan berkala bersama kader Posyandu.

Foto Bersama (sumber: Foto Kegiatan)
Foto bersama di akhir acara memperlihatkan lantai yang penuh serpihan kertas, balon, dan bola yang berserakan. Berantakan, memang. Tapi hari itu, selama dua jam penuh, tidak ada satu pun anak yang menanyakan ponsel.

