UPT Laboratorium Pancasila UM Gelar Diskusi Pancasila #4 Bedah Buku Pancasila

UPT Laboratorium Pancasila UM Gelar Diskusi Pancasila #4 Bedah Buku Pancasila

Sekitarbandung.com – Unit Pelaksana Teknis (UPT) Laboratorium Pancasila Universitas Negeri Malang menggelar Diskusi Pancasila #4 Bedah Buku Pancasila yang berjudul “Suluh Pancasila Bung Karno: Berdaulat,

UPT Laboratorium Pancasila UM Gelar Diskusi Pancasila #4 Bedah Buku Pancasila (Foto by: Dicky Wicaksono)

UPT Laboratorium Pancasila UM Gelar Diskusi Pancasila #4 Bedah Buku Pancasila (Foto by: Dicky Wicaksono)

Sekitarbandung.com – Unit Pelaksana Teknis (UPT) Laboratorium Pancasila Universitas Negeri Malang menggelar Diskusi Pancasila #4 Bedah Buku Pancasila yang berjudul “Suluh Pancasila Bung Karno: Berdaulat, Berdikari, Berkepribadian”, pada Selasa (19/5/2026), pukul 15.00 – 17.00 WIB.

Dalam forum diskusi tersebut, diisi oleh dua pemateri, yaitu Penulis Buku dan Dosen Ilmu Pemerintahan Universitas Brawijaya, Angga Sukmara C. Permadi, serta Pembedah Buku dan Dosen Hukum dan Kewarganegaraan Universitas Negeri Malang, Zulfikar Waliyuddin Fattah.

Poin-poin Penting Isi Buku

Buku yang ditulis oleh Angga dan Zulfikar, serta diterbitkan oleh Intrans Publishing dan masuk ke dalam kategori filsafat Indonesia tersebut memiliki beberapa poin penting yang di antaranya yaitu sebagai berikut:

  • Konsep Trisakti: fokus utama buku ini adalah mengulas kembali ajaran Trisakti Bung Karno, yaitu berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.
  • Krisis Identitas: penulis menyoroti pentingnya nilai berkepribadian dalam kebudayaan sebagai benteng bangsa menghadapi derasnya arus globalisasi dan krisis identitas modern.
  • Gaya Dialogis: buku ini dikemas dengan bahasa yang segar agar pembaca seolah diajak berdialog langsung dengan pemikiran-pemikiran abadi Bung Karno.
  • Manusia Pancasila: menegaskan kembali bahwa menjadi manusia Pancasila seutuhnya berarti harus berani hidup mandiri tanpa ketergantungan mutlak pada kekuatan asing.

Latar Belakang

Indonesia menghadapi krisis identitas kebangsaan. Globalisasi dan modernisasi mengikis nilai budaya lokal.

Pancasila dipandang sebagai kompas moral bangsa. Inilah mengapa pentingnya menghidupkan kembali karakter bangsa yang berkepribadian dalam kebudayaan.

Konsep Manusia yang Berkebudayaan

Manusia bukan hanya sekadar makhluk biologis, tetapi juga makhluk spiritual dan sosial. Kebudayaan menjadi fondasi pembentukan karakter bangsa.

Nilai luhur Nusantara harus dirawat dan diwariskan. Selain itu, pendidikan dan budaya juga menjadi sarana dalam membangun generasi berintegritas.

Soekarno dan Kebudayaan

Soekarno diketahui sangat mencintai budaya rakyat. Bahkan lagu rakyat oleh dirinya dianggap sebagai alat dalam pemersatu bangsa.

Di sisi lain, kebudayaan juga dipandang sebagai jiwa nasionalisme. Pancasila diperkenalkan sebagai ideologi universal di dunia internasional.

Persatuan dan Kebhinekaan

Keberagaman adalah kekuatan bangsa. Persatuan bukan menyeragamkan perbedaan.

Gotong royong menjadi ciri khas Indonesia. Persatuan penting untuk mencapai kesejahteraan nasional.

“Tidak! Kita hendak mendirikan suatu Negara ‘semua buat semua. Bukan buat satu orang, bukan buat golongan bangsawan atau yang kaya, tetapi semua buat semua,” tegas Soekarno.

Munculnya Pancasila

Selain itu, juga dijabarkan bahwa proses munculnya Pancasila melalui beberapa tahap yang di antaranya yaitu sebagai berikut:

1. Masa Perumusan di Ende

  • Soekarno merenungkan dasar negara saat di pengasingan.

2. Pidato 1 Juni 1945

  • Lima prinsip Pancasila mulai diperkenalkan.

3. Pengesahan 18 Agustus 1945

  • Pancasila resmi menjadi dasar negara dalam UUD Tahun 1945.

Dengan kata lain, Pancasila lahir dari sejarah dan pergulatan bangsa, serta menjadi dasar negara sekaligus pandangan hidup.

Pancasila berfungsi dalam menyatukan keberagaman Indonesia, serta mengandung nilai kemanusiaan, persatuan, dan keadilan sosial.

Hubungan Pancasila dengan Unsur Manusia

  1. Nilai Pancasila: Ketuhanan Yang Maha Esa.
    Unsur Manusia: ruh.
  2. Nilai Pancasila: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.
    Unsur Manusia: rasa dan hati.
  3. Nilai Pancasila: Persatuan Indonesia.
    Unsur Manusia: nafsu terarah.
  4. Nilai Pancasila: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan.
    Unsur Manusia: akal.
  5. Nilai Pancasila: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
    Unsur Manusia: harmoni sosial.

Filosofi Nusantara dan Aji Saka

Aji Saka dianggap sebagai simbol peradaban Jawa yang membawa aksara dan nilai moral serta mengajarkan dualitas kehidupan.

Kualitas kehidupan yang dimaksud yaitu baik dan buruk, serta benar dan salah. Inilah mengapa kebijaksanaan lebih penting daripada kekerasan.

Makna Aksara Jawa

  • Ha Na Ca Ra Ka: tatanan kehidupan.
  • Da Ta Sa Wa La: konflik dan pertarungan hidup.
  • Pa Dha Ja Ya Nya: kemenangan dan penyelesaian.
  • Ma Ga Ba Tha Nga: akhir kehidupan dan kematian.

Catur Yuga dalam Nusantara

Empat zaman kehidupan di antaranya yaitu sebagai berikut:

  • Satya Yuga: zaman keemasan.
  • Treta Yuga: zaman awal penurunan moral.
  • Dwapara Yuga: zaman materialisme meningkat.
  • Kali Yuga: zaman krisis moral dan sosial.

Hal itu semua digunakan untuk menjelaskan tentang dinamika peradaban Nusantara.

Diskusi tersebut menjadi ruang refleksi untuk kembali memahami nilai-nilai Pancasila melalui sudut pandang filsafat, sejarah, dan kehidupan sosial masyarakat Indonesia.

Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan dapat semakin memahami pentingnya menjaga nilai-nilai Pancasila sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara di tengah perkembangan zaman.

Sumber//https://www.sekitarbandung.com/diskusi-pancasila-4-bedah-buku-pancasila/