LPPM UM Perkuat Kualitas Penelitian Melalui Review Proposal Terstruktur
LPPM UM Perkuat Kualitas Penelitian Melalui Review Proposal Terstruktur
Malang, Tugujatim.id – Review proposal penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang diselenggarakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Malang (LPPM UM) memasuki tahap finalisasi pada hari kedua pelaksanaannya.
Proses ini menjadi langkah penting bagi perguruan tinggi dalam meningkatkan kualitas riset sekaligus memperbesar peluang proposal memperoleh pendanaan hibah penelitian.
Reviewer memberikan penilaian sekaligus masukan terhadap berbagai aspek proposal. Masukan teknis ini dapat membantu para peneliti untuk menyempurnakan proposalnya agar lebih siap diajukan pada skema pendanaan yang tersedia.
Reviewer menjadi bagian penting dalam memastikan kualitas proposal yang dihasilkan.
Proses penilaian proposal oleh para penilai di LPPM Universitas Negeri Malang mengikuti beberapa tahap terstruktur sebelum sebuah ide penelitian dapat dilanjutkan.
Salah satu penilai menjelaskan bahwa penilaian tidak langsung dimulai dengan mengkaji substansi proposal. Sebaliknya, proses dimulai dengan penyaringan administratif untuk memastikan bahwa semua dokumen dan formulir yang diperlukan telah diisi dengan benar oleh para pengaju proposal.
“Jadi diawali dengan proses administrasi dulu, nanti setelah itu lolos baru nanti ke seleksi isi,” jelas Prof. Dr. Hanik Mahliatussikah, M. Hum., salah satu reviewer LPPM UM dalam wawancara Selasa (10/03/26)
Menurut Prof Hanik, tahap awal ini berfokus pada kelengkapan administratif dan formulir pengajuan proposal yang diisi oleh para peneliti. Hanya proposal yang lolos verifikasi administratif yang akan dilanjutkan ke tahap berikutnya, di mana isi dan substansi penelitian akan dievaluasi secara lebih mendalam.
Sistem ini dirancang untuk memastikan keadilan dan efisiensi dalam proses peninjauan, memungkinkan penilai untuk fokus pada proposal yang sudah memenuhi standar pengajuan dasar.
Setelah proposal melewati tahap administratif, penilai mulai mengevaluasi isi penelitian itu sendiri. Penilai menjelaskan bahwa ada sekitar sepuluh poin penilaian utama yang digunakan sebagai pedoman.
Poin-poin ini membantu menentukan sebuah proposal layak, relevan, dan mampu menghasilkan hasil yang signifikan.
“Ada 10 poin yang ditanyakan di dalam penilaian itu, di antaranya misalnya kesesuaian jadwal dengan skema dan metode, kemudian potensi pencapaiannya seperti apa,” jelas Prof.Hanik.
Di antara berbagai poin yang dipertimbangkan, beberapa aspek menjadi perhatian khusus oleh para penilai. Salah satu faktor penting adalah kesesuaian antara jadwal penelitian yang diusulkan dengan skema di mana proposal tersebut diajukan.
Aspek kunci lainnya adalah kesesuaian metodologi penelitian, yang harus secara jelas mendukung tujuan yang ditetapkan oleh peneliti.
Namun, reviewer menekankan bahwa salah satu aspek paling krusial dalam evaluasi adalah potensi pencapaian hasil penelitian.
Dalam konteks program layanan masyarakat atau program penelitian terapan, hasil yang diharapkan seringkali menentukan sebuah proposal dianggap berdampak atau tidak.
Proposal yang menunjukkan hasil yang jelas dan dapat diukur cenderung mendapatkan pertimbangan yang lebih kuat selama proses penilaian.
Reviewer LPPM UM juga memberitahukan bahwa fakultas sangat mendorong dan memotivasi para dosen untuk berpartisipasi dalam kegiatan penelitian, dengan memberikan kesempatan yang lebih untuk mengumpulkan proposal.
Hal ini adalah sumber meningkatnya jumlah proposal yang dikumpulkan di tahun ini. Dengan meningkatnya proposal juga para reviewer juga melihat peningkatan kualitas dalam proposal yang dikumpulkan.
Saat membahas tema-tema yang sering muncul dalam proposal yang diajukan, reviewer menyebutkan bahwa banyak peneliti saat ini tertarik pada topik terkait teknologi pendidikan.
Penelitian yang melibatkan kecerdasan buatan, platform pembelajaran digital, dan alat pengajaran berbasis teknologi semakin umum ditemukan dalam proposal yang direview.
Meskipun demikian, reviewer menekankan bahwa penelitian di Universitas Negeri Malang tidak terbatas pada topik-topik teknologi. Ruang lingkup akademik universitas tetap luas, mencakup berbagai disiplin ilmu di bidang pendidikan, ilmu sosial, dan studi berbasis komunitas.
Meskipun penelitian berorientasi teknologi saat ini menonjol, bidang-bidang lain tetap memberikan kontribusi yang signifikan terhadap keragaman proposal yang diajukan.
Terakhir, Hanik berharap kegiatan review proposal seperti ini dapat terus mendorong peningkatan kualitas penelitian di lingkungan perguruan tinggi, terutama di Universitas Negeri Malang.
Proses penilaian dan masukan dari para reviewer menjadi langkah penting untuk memastikan proposal yang diajukan telah disusun dengan baik sebelum memperoleh pendanaan penelitian.
Dengan demikian, kegiatan ini mampu mendorong para peneliti untuk menghasilkan penelitian yang berkualitas serta memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan masyarakat.
Sumber//https://tugujatim.id/lppm-um-perkuat-kualitas-penelitian-melalui-review/

