{"id":15568,"date":"2024-11-19T08:43:39","date_gmt":"2024-11-19T01:43:39","guid":{"rendered":"https:\/\/kliping.um.ac.id\/?p=15568"},"modified":"2024-11-19T08:43:39","modified_gmt":"2024-11-19T01:43:39","slug":"pulau-jawa-penduduk-miskin-terbesar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kliping.um.ac.id\/index.php\/pulau-jawa-penduduk-miskin-terbesar\/","title":{"rendered":"Pulau Jawa Penduduk Miskin Terbesar"},"content":{"rendered":"<h1 style=\"text-align: center;\">Pulau Jawa Penduduk Miskin Terbesar<\/h1>\n<h3 style=\"text-align: center;\">Hasil Riset Guru Besar FIS UB Prof Dr I Nyoman Ruja<\/h3>\n<p>\nMALANG POST &#8211; Prof. Dr. I Nyoman Ruja, S.U., dari Fakultas Ilmu Sosial (FIS) resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar dengan mengangkat subtopik &#8220;Menyoroti Isu Strategis<br \/>\nKemiskinan Ekstrem di Pedesaan&#8221;.<\/p>\n<p>Prof. Nyoman menegaskan pentingnya kajian sosiologi pedesaan dalam memahami kompleksitas kehidupan masyarakat desa.<\/p>\n<p>\u201cSosiologi pedesaan mengkaji struktur sosial, hubungan sosial, serta proses perubahan sosial. Studi ini bertujuan memahami pola <br \/>\nkehidupan pedesaan, termasuk pengelolaan sumber daya alam, sosial, budaya, ekonomi,dan politik,\u201d urainya<\/p>\n<p>Ia juga menjelaskan bahwa kemiskinan ekstrem sering diperburuk oleh lemahnya modal sosial di pedesaan. Minimnya<br \/>\nsolidaritas dan kerja sama antar warga menjadi salah satu hambatan dalam memperbaiki kondisi ekonomi.<\/p>\n<p>\u201cKemiskinan ekstrem terjadi ketika individu atau kelompok hidup dengan pendapatan minim, sehingga kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, tempat tinggal layak, dan layanan kesehatan<br \/>\ntidak terpenuhi,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Riset yang dipaparkan Prof. Nyoman mengungkap peta kemiskinan Indonesia tahun 2024.<\/p>\n<p>Menurutnya Pulau Jawa menjadi wilayah dengan jumlah penduduk miskin terbesar,mencapai 13,24 juta orang, sementara Kalimantan memiliki penduduk miskin <br \/>\nterendah, sebanyak 0,94 juta orang. Ia juga mengidentifikasi penyebab kemiskinan di desa, termasuk kurangnya akses pendidikan, pelatihan, dan teknologi.<\/p>\n<p>Sebagai solusi, Prof. Nyoman merekomendasikan berbagai langkah, seperti peningkatan pendidikan, pemberdayaan<br \/>\nekonomi, inovasi teknologi, kolaborasi lintas sektor, dan pendekatan berbasis bukti.<\/p>\n<p>Sosial (FIS) resmi dikukuhkan \u201cLangkah-langkah ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals), khususnya dalam<br \/>\nmendukung pengentasan kemiskinan di segala bentuk dan tempat,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Dengan kontribusi riset ini, UM melalui guru besarnya telah menunjukkan komitmennya untuk mendukung pembangunan berkelanjutan, khususnya di wilayah pedesaan. (M Abd Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)<\/p>\n<p><span style=\"color: #0000ff;\"><a style=\"color: #0000ff;\" href=\"https:\/\/kliping.um.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/mMALANG-POSTSELASA19NOVEMBER2024.pdf\">DOWNLOAD MALANG POST,SELASA,19,NOVEMBER,2024<\/a><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pulau Jawa Penduduk Miskin Terbesar Hasil Riset Guru Besar FIS UB Prof Dr I Nyoman Ruja MALANG POST &#8211; Prof. Dr. I Nyoman Ruja, S.U., dari Fakultas Ilmu Sosial (FIS) resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar dengan mengangkat subtopik &#8220;Menyoroti Isu Strategis Kemiskinan Ekstrem di Pedesaan&#8221;. Prof. Nyoman menegaskan pentingnya kajian sosiologi pedesaan dalam memahami kompleksitas [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":15570,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[39],"tags":[],"class_list":["post-15568","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-online"],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kliping.um.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15568","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/kliping.um.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kliping.um.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kliping.um.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kliping.um.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=15568"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/kliping.um.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15568\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":15571,"href":"https:\/\/kliping.um.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15568\/revisions\/15571"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kliping.um.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/15570"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kliping.um.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=15568"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kliping.um.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=15568"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kliping.um.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=15568"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}