{"id":1407,"date":"2016-08-12T07:24:53","date_gmt":"2016-08-12T07:24:53","guid":{"rendered":"http:\/\/kliping.um.ac.id\/?p=1407"},"modified":"2016-08-12T07:24:53","modified_gmt":"2016-08-12T07:24:53","slug":"pohon-bukan-toilet-umum","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kliping.um.ac.id\/index.php\/pohon-bukan-toilet-umum\/","title":{"rendered":"Pohon Bukan Toilet Umum"},"content":{"rendered":"<div id=\"attachment_1397\" style=\"width: 224px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-1397\" class=\"size-medium wp-image-1397\" src=\"http:\/\/kliping.um.ac.id\/wp-content\/uploads\/2016\/08\/Daftar-Kekayaan-Budiharto0017_1-1-214x300.png\" alt=\"Surya 12 Agustus 2016\" width=\"214\" height=\"300\" srcset=\"https:\/\/kliping.um.ac.id\/wp-content\/uploads\/2016\/08\/Daftar-Kekayaan-Budiharto0017_1-1-214x300.png 214w, https:\/\/kliping.um.ac.id\/wp-content\/uploads\/2016\/08\/Daftar-Kekayaan-Budiharto0017_1-1-107x150.png 107w, https:\/\/kliping.um.ac.id\/wp-content\/uploads\/2016\/08\/Daftar-Kekayaan-Budiharto0017_1-1-730x1024.png 730w, https:\/\/kliping.um.ac.id\/wp-content\/uploads\/2016\/08\/Daftar-Kekayaan-Budiharto0017_1-1.png 999w\" sizes=\"auto, (max-width: 214px) 100vw, 214px\" \/><p id=\"caption-attachment-1397\" class=\"wp-caption-text\">Surya 12 Agustus 2016<\/p><\/div>\n<p><a href=\"http:\/\/kliping.um.ac.id\/wp-content\/uploads\/2016\/08\/Daftar-Kekayaan-Budiharto0017-1.pdf\">Surya 12 Agustus 2016<\/a><\/p>\n<p>Artikel : M Nurfahrul Lukmanul Khakim Mahasiswa Universitas Negeri Malang<\/p>\n<h1 style=\"text-align: center;\">Pohon Bukan Toilet Umum<\/h1>\n<p style=\"text-align: justify;\">PERILAKU kencing di pohon sering terjadi di jalanan Janti sampai Kalimeri Malang. Pelaku kebiasaan buruk ini umumnya laki-laki.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebenamya perilaku ini juga terjadi di berbagai tempat. Pohon-pohon tersebut menjadi bau setelah dikencingi oleh pelaku tak bertanggung jawab.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perilaku tersebut juga menjadi pemandangan yang tidak sopan karena kencing hal yang sangat privasi. Tidak selayaknya dilakukan di tempat umum seperti di pepohonan tepi jalan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sadar atau tidak sadar, banyak pengguna jalan akan melihat perilaku tersebut, sehingga bisa mengurangi keindahan sekaligus bukan contoh dan adab yang baik. Latar belakang utama penyebab<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">perilaku kencing di bawah pohon ialah ketcrgcsaan, keterpaksaan atau bahkan kebiasaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pelaku yang sedang terburu-buru biasanya tidak menemukan toilet lain selama perjalanan di jalanan yang bclum begitu dikenal sehingga terpaksa berhenti di pohon dan kencing di baliknya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saya sering menemukan pelaku yang juga melakukannya karena kebiasaan yang umumnya dilakukan oleh pengemudi angkutan mulai dari becak sampai truk yang nyatanya rutin mangkal di kawasan tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Masalah ini bisa diatasi dcngan pemasangan rambu-rambu arah toilet di tepi jalan untuk memberi informasi sekaligus peringatan pencegahan kepada pelaku maupun pengguna jalan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dinas pertamanan sampai keamanan bisa memasang tanda larangan di sekitar pohon serta menerapkan teguran atau sanksi agar perilaku buruk ini tidak terulang lagi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pepohonan di tepi jalan itu mcmbantu menangkal polusi, sumber udara segar, dan penambah keasrian, jadi tidak sepantasnya dijadikan toilet darurat.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Surya 12 Agustus 2016 Artikel : M Nurfahrul Lukmanul Khakim Mahasiswa Universitas Negeri Malang Pohon Bukan Toilet Umum PERILAKU kencing di pohon sering terjadi di jalanan Janti sampai Kalimeri Malang. Pelaku kebiasaan buruk ini umumnya laki-laki. Sebenamya perilaku ini juga terjadi di berbagai tempat. Pohon-pohon tersebut menjadi bau setelah dikencingi oleh pelaku tak bertanggung jawab. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[],"tags":[2],"class_list":["post-1407","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","tag-opiniartikel"],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kliping.um.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1407","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/kliping.um.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kliping.um.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kliping.um.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kliping.um.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1407"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/kliping.um.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1407\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1408,"href":"https:\/\/kliping.um.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1407\/revisions\/1408"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kliping.um.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1407"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kliping.um.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1407"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kliping.um.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1407"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}