{"id":12879,"date":"2023-08-04T08:55:04","date_gmt":"2023-08-04T01:55:04","guid":{"rendered":"http:\/\/kliping.um.ac.id\/?p=12879"},"modified":"2023-08-04T08:55:04","modified_gmt":"2023-08-04T01:55:04","slug":"guru-besar-um-malang-masyarakat-jawa-miliki-aporisma-weruh-sadurunge-winarah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kliping.um.ac.id\/index.php\/guru-besar-um-malang-masyarakat-jawa-miliki-aporisma-weruh-sadurunge-winarah\/","title":{"rendered":"Guru Besar UM Malang: Masyarakat Jawa Miliki Aporisma \u2018Weruh Sadurunge Winarah\u2019"},"content":{"rendered":"<header class=\"entry-header\">\n<div class=\"entry-meta\">\n<div class=\"date-time\"><time>Kamis, 3 Agustus 2023, 00:33 WIB<\/time><\/div>\n<\/div>\n<\/header>\n<div class=\"entry-content\">\n<p><strong>Malang (beritajatim.com)<\/strong>\u00a0\u2013 Masyarakat Jawa memiliki aporisma \u201cweruh sadurunge winarah\u201d yang mengandung arti melihat hal-hal yang akan terjadi sebelum segalanya benar-benar terjadi. Ungkapan ini sering dihubungkan dengan hubungan manusia dengan pencipta dan sering dikaitkan dengan hal-hal yang bersifat mistis.<\/p>\n<p>Namun, Prof. Aji Prasetya Wibawa, S.T., M.MT., Ph.D., menyatakan bahwa ungkapan \u201cweruh sadurunge winarah\u201d sebenarnya adalah ilmu pengetahuan berdasarkan data yang dimiliki masyarakat Jawa. \u201cWeruh sadurunge winarah merupakan epistem ilmu titen atau niteni, yang berarti memahami data dan informasi yang sudah ada, untuk membuat generalisasi kesimpulan yang tepat,\u201d ujar pria yang akan menjadi guru besar Universitas Negeri Malang (UM) pada Kamis, 2 Agustus 2023.<\/p>\n<div style=\"width: 1588px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"attachment-post-thumbnail wp-post-image\" src=\"https:\/\/beritajatim.com\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/10.-Prof.-Aji-Prasetya-Wibawa-S.T.-M.MT_.-Ph.D_Fo7lt47583.jpeg\" alt=\"Bahas aporisma Jawa weruh sakdurunge winarah, Aji Prasetya Wibawa dikukuhkan jadi guru besar pertama bidang rekayasa pengetahuan dan data sains (Foto: Humas UM)\" width=\"1578\" height=\"1092\" \/><p class=\"wp-caption-text\"><span style=\"color: #999999;\"><em>Bahas aporisma Jawa weruh sakdurunge winarah, Aji Prasetya Wibawa dikukuhkan jadi guru besar pertama bidang rekayasa pengetahuan dan data sains (Foto: Humas UM)<\/em><\/span><\/p><\/div>\n<p>Prof. Aji menjadi guru besar bidang rekayasa pengetahuan dan data sains pertama di Indonesia dan di UM. Dia akan dikukuhkan bersama empat guru besar UM lainnya, yaitu Prof. Dr. Yuni Pratiwi, M.Pd., Prof. Dr. Murni Sapta Sari, M.Si., Prof. Dr. Agung Winarno, M.M., dan Prof. Dr. Tuwoso. M.P., dalam acara di Aula GKB A19 Lantai 9 UM pada Kamis (3\/8\/2023).<\/p>\n<p>Dalam penuturannya, dia menceritakan ketertarikannya pada budaya Jawa yang sudah dimiliki sejak lama, bahkan saat masih muda. Ayahnya adalah seorang dalang, dan keturunannya juga menjadi dalang turun temurun.<\/p>\n<p>\u201cSaat saya kuliah S3 informatika di University of South Australia, Adelaide, saya sering menjadi dalang. Sekarang ini saya sering tampil sebagai dalang di Australia. Bahkan waktu itu saya mendirikan grup reog di Australia,\u201d ungkap pria yang diberi julukan Ki Aji Abdi Carito ini.<\/p>\n<p>Lebih lanjut, Prof. Aji mengatakan bahwa pada era informasi saat ini, penguasaan atas \u201cweruh sadurunge winarah\u201d tidak bisa dipisahkan dari business intelligence (BI). Proses ini melibatkan pengumpulan, analisis, dan pemanfaatan data dan informasi untuk pengambilan keputusan yang tepat.<\/p>\n<p>Dengan business intelligence, organisasi dapat memperoleh keunggulan kompetitif, meningkatkan efisiensi operasional, dan mendorong pertumbuhan. Manajemen data dan generasi pengetahuan adalah proses yang saling terkait dalam memanfaatkan potensi penuh sebuah organisasi.<\/p>\n<p>\u201cJadi, kalau ada orang yang memiliki kemampuan nebak atau prediksi, itu karena dia sudah memiliki data dan bisa menebak berdasarkan data dari pengunjung sebelumnya. Seseorang yang memiliki \u201cweruh sadurunge winarah\u201d, memiliki data dan informasi sehingga dapat menghasilkan kebijaksanaan,\u201d jelas pria yang menempuh S2 manajemen informatika di Institut Teknologi Surabaya ini.<\/p>\n<p>Menurutnya, data yang baik akan menghasilkan pengetahuan efektif melalui analisis dan interpretasi yang akurat. Efisiensi ini dapat ditingkatkan melalui pembersihan data, integrasi, dan aksesibilitas. Data science (DS) dan pengetahuan saling berkaitan dalam proses penggalian kebijaksanaan.<\/p>\n<p>\u201cData science mencakup pengumpulan, analisis, dan interpretasi data dengan menggunakan berbagai teknik dan teknologi, termasuk metode statistik dan komputasi. Wawasan yang dihasilkan melalui proses data science memvalidasi pengetahuan yang sudah ada, menyempurnakannya, atau bahkan membawa pada penemuan pengetahuan baru,\u201d tutur dosen yang mengampu mata kuliah informatika di Fakultas Teknik UM ini.<\/p>\n<p>Pengetahuan yang diperluas kemudian diterapkan dalam domain tertentu dalam situasi dunia nyata. Di sisi lain, kebijaksanaan memainkan peran penting dalam kontekstualisasi dan interpretasi wawasan berbasis data.<\/p>\n<p>\u201cKebijaksanaan membantu dalam memahami keterbatasan, bias, dan implikasi potensial dari analisis data. Dengan mengintegrasikan ketajaman analisis dan kebijaksanaan, organisasi dapat membuat keputusan yang lebih informatif, bertanggung jawab, dan tidak melanggar etika,\u201d pungkasnya.\u00a0<strong>(dan\/kun)<\/strong><\/p>\n<p><span style=\"color: #008080;\"><em>Sumber|https:\/\/beritajatim.com\/pendidikan-kesehatan\/guru-besar-um-malang-masyarakat-jawa-miliki-aporisma-weruh-sadurunge-winarah\/<\/em><\/span><\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kamis, 3 Agustus 2023, 00:33 WIB Malang (beritajatim.com)\u00a0\u2013 Masyarakat Jawa memiliki aporisma \u201cweruh sadurunge winarah\u201d yang mengandung arti melihat hal-hal yang akan terjadi sebelum segalanya benar-benar terjadi. Ungkapan ini sering dihubungkan dengan hubungan manusia dengan pencipta dan sering dikaitkan dengan hal-hal yang bersifat mistis. Namun, Prof. Aji Prasetya Wibawa, S.T., M.MT., Ph.D., menyatakan bahwa ungkapan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12880,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[39],"tags":[],"class_list":["post-12879","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-online"],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kliping.um.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12879","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/kliping.um.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kliping.um.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kliping.um.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kliping.um.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=12879"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/kliping.um.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12879\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":12881,"href":"https:\/\/kliping.um.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12879\/revisions\/12881"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kliping.um.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12880"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kliping.um.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=12879"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kliping.um.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=12879"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kliping.um.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=12879"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}