UM dan IPB Olah Limbah Organik Jadi Biodigester di Desa Sumberdem, 8 Titik Siap Jajal Energi Terbarukan
UM dan IPB Olah Limbah Organik Jadi Biodigester di Desa Sumberdem, 8 Titik Siap Jajal Energi Terbarukan
MALANG, Tugujatim.id – Universitas Negeri Malang (UM) bersama Institut Pertanian Bogor (IPB) mengembangkan ekosistem kopi berkelanjutan melalui Program Bestari Saintek di Desa Sumberdem, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang. Salah satu bentuk implementasi UM dan IPB, yakni instalasi dan pelatihan biogas digester atau biodigester untuk mengolah limbah organik, termasuk kulit kopi dan kotoran hewan, menjadi sumber energi.
Program tersebut dilaksanakan pada Minggu (20/09/2026) di Kantor Desa Sumberdem. Kegiatan ini menjadi bagian dari program Tim Revolusi Kopi yang menjadikan Desa Sumberdem sebagai living lab atau laboratorium hidup untuk mengembangkan solusi berbasis sains dan teknologi bersama masyarakat.
Olah Limbah Kopi dan Limbah Ternak Jadi Energi
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian tim adalah pengelolaan limbah kopi. Melalui biodigester, limbah organik yang sebelumnya berpotensi menjadi sampah dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan biogas.
Perwakilan Su-re.co Bianca Angelique menjelaskan, bahan organik seperti kotoran hewan maupun kulit kopi dapat dimasukkan ke dalam biodigester. Proses tersebut berlangsung tanpa udara sehingga menghasilkan gas yang kemudian dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar.
“Gas tersebut dapat kami gunakan sebagai bahan bakar kompor, kemudian sisanya dapat berupa cairan dan endapan yang bisa dijadikan pupuk di kebun,” jelasnya.

Penyerahan alat biogas digester dari Tim Revolusi Kopi kepada Desa Sumberdem pada Minggu (20/09/2026). (Foto: Nur Laila Khoriroh/Tugu Jatim)
Dengan sistem tersebut, pengolahan limbah tidak hanya diarahkan untuk mengurangi persoalan lingkungan, tetapi juga menciptakan siklus berulang yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Biogas yang dihasilkan dapat digunakan sebagai alternatif bahan bakar untuk memasak. Sementara sisa hasil dari proses pengolahan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk untuk tanaman.
“Harapannya bisa terdapat proses yang berputar secara terus-menerus. Tidak hanya mengurangi penggunaan kayu bakar, bisa juga mengurangi pengeluaran untuk membeli elpiji. Selain itu, bisa mengurangi sampah yang mungkin selama ini masih dibiarkan saja,” lanjutnya.
Biodigester Disiapkan di Delapan Titik Rumah Warga
Ketua Pelaksana Tim Revolusi Kopi Dr Ir Yessie Widya Sari menjelaskan, pemilihan Desa Sumberdem bukan tanpa alasan. Desa tersebut dinilai memiliki potensi sekaligus persoalan nyata yang dapat dikembangkan melalui kolaborasi perguruan tinggi dan masyarakat.
“Revolusi Kopi ini ada karena kami ingin bersama-sama dengan Bapak dan Ibu membangun ekosistem kopi yang lebih berkelanjutan,” ujarnya.
Sebelum memasuki tahap implementasi, tim Revolusi Kopi telah melakukan kunjungan ke Desa Sumberdem pada Juli dan Agustus 2026. Tim juga mengeksplorasi serta desain untuk menentukan lokasi pemasangan biodigester.

Perwakilan Su-re.co memberikan sosialisasi pemasangan alat biogas digester kepada warga Sumberdem. (Foto: Nur Laila Khoriroh/Tugu Jatim)
Dalam tahap awal, biodigester direncanakan berada di delapan titik yang telah disepakati bersama masyarakat.
Tim juga menggandeng Su-re.co dalam pengembangan teknologi tersebut. Setelah pemasangan dilakukan, tim UM dan IPB akan kembali melakukan pengecekan serta evaluasi untuk melihat efektivitas penerapan teknologi di lapangan.
“Setelah pemasangan nanti kami akan kembali untuk mengecek lagi,” kata Yessie.
Menurut dia, evaluasi menjadi bagian penting dari konsep living lab. Apabila solusi yang diterapkan masih memiliki kendala, tim akan kembali melakukan evaluasi dan mencari perbaikan bersama masyarakat.
Tiga Pilar Revolusi Kopi
Program Revolusi Kopi tidak hanya berfokus pada pengolahan limbah menjadi energi. Tim membagi program tersebut ke dalam tiga pilar utama.
Pilar pertama berkaitan dengan energi, salah satunya melalui pemanfaatan limbah kopi menjadi biogas.
Pilar kedua yakni Desa Presisi, yang berkaitan dengan penerapan teknologi digital di tingkat komunitas. Dalam pengembangannya, tim akan membantu membuat platform digital dengan dukungan tim yang bergerak di bidang kecerdasan buatan atau AI, rAIgine.

Biogas digester juga di pasang di 7 titik lainnya yang merupakan rumah warga Desa Sumberdem. (Foto: Nur Laila Khoriroh/Tugu Jatim)
Sementara pilar ketiga berkaitan dengan upaya menggerakkan generasi muda untuk ikut melestarikan kopi dan membangun keberlanjutan ekosistem kopi di Sumberdem. Konsep tersebut juga menggunakan pendekatan pentahelix dengan melibatkan akademisi, masyarakat, pemerintah, sektor swasta, serta media.
Akademisi berperan dalam riset, inovasi teknologi, pendampingan, dan evaluasi. Masyarakat menjadi pihak yang terlibat dalam proses co-creation dan implementasi di tingkat lokal. Pemerintah memberikan dukungan dan fasilitasi, sementara sektor swasta mendukung teknologi, inovasi, model bisnis, serta jejaring.
Sumberdem Jadi Laboratorium Hidup
Yessie mengatakan, Sumberdem memiliki berbagai prestasi yang membuatnya menarik sebagai lokasi pengembangan program. Salah satunya adalah penghargaan sebagai juara 1 nasional kategori wisata alam dari Kementerian Pariwisata.
Namun, menurut dia, prestasi tersebut bukan satu-satunya alasan Sumberdem dipilih. Desa ini juga memiliki persoalan nyata yang dapat menjadi ruang kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat.
“Kami memilih Desa Sumberdem sebagai lab hidup karena desa ini menarik dan memiliki banyak prestasi. Tidak hanya itu, Desa Sumberdem memiliki permasalahan nyata yang bisa kita selesaikan bersama-sama,” tuturnya.

UM dan IPB bekerja sama dengan warga Desa Sumberdem untuk ubah limbah kopi dan ternak menjadi biogas digester. (Foto: Nur Laila Khoriroh/Tugu Jatim)
Sementara itu, Sekretaris LPPM UM Dr Hary Suswanto ST MT menyampaikan apresiasi atas kesempatan UM menjalankan program bersama IPB dan masyarakat Sumberdem. Menurut dia, Sumberdem dapat menjadi contoh pengabdian dan penelitian yang dikembangkan berdasarkan potensi serta kebutuhan masyarakat.
“Sumberdem ini merupakan bukti percontohan pengabdian, penelitian, terlebih sudah memiliki berbagai prestasi yang diraih karena masyarakatnya juga,” ujarnya.
Dia berharap masyarakat dapat terus bekerja sama agar peningkatan pengetahuan dan pengembangan berbagai produk yang ada di Sumberdem dapat berjalan dengan baik.
Rencana Pengembangan Coffee Camp
Selain teknologi pengolahan limbah, Revolusi Kopi juga memiliki agenda Coffee Camp yang direncanakan berlangsung pada 4-10 April 2027 di Desa Sumberdem.
Coffee Camp tidak sekadar dirancang sebagai sekolah kopi. Kegiatan tersebut akan menjadi ruang belajar berbasis pengalaman yang membahas sejumlah aspek, mulai dari sejarah, budi daya, gastronomi, sirkularitas hingga bisnis kopi.
Coffee Camp diharapkan menjadi ruang berbagi pengetahuan, membangun jejaring, sekaligus mendorong proses co-creation secara langsung di ekosistem kopi Sumberdem.
Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Saintek, Dirjen Dikti, Kemdikti Prof Yudi Darma SSi MSi menyampaikan bahwa Program Bestari Saintek memang diinisiasi untuk memperkuat interaksi antara perguruan tinggi dan masyarakat.
“Bagaimana kami menggunakan sains dan teknologi yang diperoleh di kampus dapat diterapkan sehingga berdampak ke masyarakat, bisa dalam bentuk dampak lingkungan hingga dampak ekonomi,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Desa Sumberdem Purwati SE menyampaikan apresiasi atas pendampingan dari perguruan tinggi. Dia berharap kerja sama tersebut dapat berlangsung lebih lama sehingga semakin banyak potensi desa yang dapat dikembangkan.
“Terima kasih sebesar-besarnya telah mendampingi kami dalam pemberdayaan Desa Sumberdem. Harapan kami kerja sama ini bisa berlangsung lebih lama lagi,” ujarnya.
Melalui Revolusi Kopi, UM dan IPB tidak hanya mendorong peningkatan sektor kopi, tetapi juga mengembangkan ekosistem yang menghubungkan energi terbarukan, teknologi digital, lingkungan, ekonomi, pendidikan, dan generasi muda dalam satu rangkaian yang berkelanjutan. (adv)
Sumberhttps://tugujatim.id/um-dan-ipb-olah-biodigester-di-desa-sumberdem///

