UM Revolusi Budaya dan Prestasi Internasional
UM Revolusi Budaya dan Prestasi Internasional

MEGAH: Gedung ikonik Universitas Negeri Malang (UM) yang kini menjadi saksi revolusi budaya akademik.
MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Universitas Negeri Malang (UM) sedang melakukan sebuah eksperimen besar. Eksperimen ini bukan di dalam laboratorium kimia. Eksperimen ini terjadi di dalam kepala setiap sivitas akademikanya. Mereka sedang melakukan revolusi budaya. Sebuah upaya untuk meruntuhkan tembok “Menara Gading” yang selama ini memisahkan kampus dengan realitas global.
Hasilnya sudah terlihat. UM kini bukan lagi sekadar nama di peta pendidikan lokal. Menurut AD Scientific Index, UM kini duduk di tahta tertinggi. Mereka peringkat pertama di Indonesia untuk bidang pendidikan. EduRank juga memberikan rapor hijau. UM memimpin di bidang multimedia dan kewirausahaan. Namun, bagi para pimpinan di sana, peringkat hanyalah bonus.
Apa musuh terbesar UM? Jawabannya bukan kompetitor. Jawabannya adalah rasa nyaman. Rektor UM Prof. Dr. Hariyono, M.Pd., sering mengingatkan hal ini. Beliau melihat kemapanan sebagai jebakan. “Tantangan terbesar kita adalah rasa nyaman dan kemapanan,” tegas Prof. Hariyono.
Kalimat itu bukan sekadar slogan. Itu adalah peringatan. Beliau ingin UM terus “gelisah.” Kegelisahan intelektual adalah bahan bakar inovasi. Tanpa rasa gelisah, ilmu pengetahuan akan berhenti bergerak. Budaya kritis pun dihidupkan kembali. Di UM, tidak ada ruang untuk pikiran yang kaku. Perdebatan ilmiah dianggap sebagai nutrisi. Dosen dan mahasiswa didorong untuk berani berbeda pendapat.
Transformasi ini diperkuat dengan satu kata kunci: Meritokrasi. UM kini menerapkan sistem yang sangat terbuka. Jabatan dan peluang tidak lagi ditentukan oleh koneksi. Bukan juga soal siapa yang paling senior secara usia. “Di sini, kompetensi adalah panglima,” ujar Wakil Rektor IV Prof. Ahmad Munjin Nasih.
Beliau menjelaskan bahwa pintu peluang dibuka lebar bagi siapa saja yang punya prestasi. Sistem ini memaksa semua orang untuk berlari. Tidak ada lagi orang yang bisa “bersembunyi” di balik nama besar institusi. “Siapa yang berkontribusi nyata, dia yang mendapat apresiasi. Kita hapus sekat birokrasi yang kaku,” tambahnya.
Kombinasi antara budaya kritis dan meritokrasi ini menciptakan ledakan kreativitas. Inilah yang menjelaskan mengapa UM sangat kuat di bidang multimedia dan kewirausahaan. Mahasiswa tidak hanya menghafal teori di kelas. Mereka didorong untuk menjadi kreator. Mereka dipaksa untuk menjadi solusi bagi masalah masyarakat.
UM kini sedang membuktikan satu hal penting. Bahwa sebuah universitas bisa mendunia jika mereka berani jujur pada diri sendiri. Mereka berani membuang pola pikir lama yang menghambat. “Kampus ini bukan hanya sekadar tempat mencari gelar. UM telah menjadi mesin penggerak transformasi bangsa,” pungkasnya.(imm/lim)
Sumber//https://malangposcomedia.id/um-revolusi-budaya-dan-prestasi-internasional/

