Kampus Tambah Kuota Mahasiswa Miskin

MALANG KOTA – Peluang calon mahasiswa dari kalangan tidak mampu untuk masuk perguruan tinggi negeri (PTN) makin besar. Sebab, kuota penerimaan mahasiswa baru melalui jalur bidikmisi bakal bertambah. Bahkan, penambahannya diperkirakan mencapai 100 persen.

Universitas Brawijaya (UB) misalnya. Pada 2018 lalu mengalokasikan kuota 500 untuk jalur bidikmisi. Kini bertambah menjadi 1.000 kursi. ”Kemungkinan naik kuotanya (jalur bidikmisi). Tidak seperti tahun lalu (2018) yang sempat menurun,” ujar Rektor UB Prof Dr Ir Nuhfil Hanani AR MS usai menghadiri Dies Natalies UB Ke-56 kemarin (5/1).

Nuhfil menyatakan, penambahan kuota bidikmisi ini berdasarkan kuota tambahan dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). ”Pusat yang mengatur penambahannya. Tahun 2017 lalu bertambah, 2018 turun, kini (2019) naik lagi,” kata guru besar (gubes) pertanian itu.

Dia mengetahui, adanya penambahan kuota bidikmisi setelah berkoordinasi dengan Kemenristekdikti, beberapa waktu lalu. Intinya, ada kuota bidikmisi sebesar 130 ribu yang disebar ke seluruh PTN dan perguruan tinggi swasta (PTS) yang dianggap mampu menata kuota bidikmisi.

”Biasanya diberikan 10 persen dari kuota daya tampung total,” tambah mantan dekan fakultas pertanian (FP) UB itu.

Sementara itu, Kepala Biro (Kabiro) Akademik Kemahasiswaan UB Dr Kusnadi MSi menambahkan, kuota bidikmisi tahun ini mencapai 1.000. ”Kemungkinan bisa tembus 1.300. Tetapi ini masih menunggu pengesahan Kemenristekdikti,” ujar dia.

Ini pun, masih belum ditambahkan kuota beasiswa Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) yang selalu diberikan bersamaan dengan kuota bidikmisi.

Sementara itu, dana bidikmisi yang diterima setiap mahasiswa sekitar Rp 3 juta di awal masuk kuliah. Rinciannya Rp 2,4 juta digunakan untuk membayar SPP, sedangkan sisanya Rp 600 ribu diberikan kepada mahasiswa. Selebihnya, setiap mahasiswa dijatah Rp 600 ribu per bulan. Namun pencairannya setiap satu semester.

”Sebenarnya dana bidikmisi itu bisa jadi kurang buat mahasiswa. Dulu sempat ditambah dari program internal, namun kini tidak bisa lagi,” jelas dia.

Kusnadi menyatakan, per mahasiswa bidikmisi sempat menerima tambahan Rp 400 ribu, lalu diberhentikan pemberiannya karena audit dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). ”Diminta kembali ke aturan. Jadi per mahasiswa kini terima Rp 600 ribu,” singkat Kusnadi.

Namun, jika UB berhasil menjadi PTN-Berbadan Hukum (BH), apakah bisa menambah biaya tambahan untuk mahasiswa tidak mampu? Mengingat, jika UB menjadi PTN-BH artinya UB bebas mengelola keuangannya sendiri. ”Kami belajar dari seluruh PTN-BH. Mereka tidak berani menambah biaya bidikmisi. Tetap sesuai aturan negara karena rektor tetap harus melampirkan pertanggungjawaban finansial,” tambahnya.

Sementara itu, di Universitas Negeri Malang (UM) juga mendapat jatah kuota bidikmisi. Ini disampaikan Rektor UM Prof Dr H Ah Rofi’uddin MPd. ”Ya kami mendapat jatah juga, meski belum final, dipastikan naik 50 persen,” kata Rofi’uddin.

Tahun 2018 lalu, kuota bidikmisi UM juga menurun. UM hanya mendapat jatah 780 kuota bidikmisi. Sementara, tahun ini meningkat menjadi sekitar 1.300. Kuota tahun lalu yang sebesar 780 sudah dialokasikan kepada 239 mahasiswa yang mendaftar ke UM melalui jalur SNM PTN. Sisanya akan diberikan kepada maba yang mendaftar di jalur SBM PTN dan Mandiri. ”Tetapi, untuk meng-cover beberapa siswa tidak mampu yang berprestasi, ada kuota jalur prestasi,” kata rektor dua periode ini.

Di Universitas Islam Negeri (UIN) Maliki pun tak ketinggalan kebagian jatah kuota bidikmisi. Hanya besarannya belum diketahui. ”Kalau dibanding tahun lalu, ini meningkat. Angkanya menyusul,” ujar Rektor UIN Maliki Prof Dr H Abdul Haris MAg.

Tahun lalu, UIN mendapat jatah sekitar 200 penerima beasiswa bidikmisi. Tak hanya PTN, PTS pun bakal mendapat penambahan kuota bidikmisi. Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) Jawa Timur Dr H Suko Wiyono menyatakan, tahun ini PTS di Kota Malang ikut menambah jumlah bidikmisi. ”Tetapi tidak banyak, karena pembiayaan kampus kan tidak seperti PTN yang dibiayai pemerintah,” ujar dia.

Paling sedikit, ada sekitar 20 penerima bidikmisi di satu kampus swasta kecil. Sementara di kampus besar, kemungkinan menerima sekitar 50 mahasiswa bidikmisi. Suko menyatakan, tahun ini PTS wajib menggenjot jumlah penerima bidikmisi.

Sumber dari: https://radarmalang.jawapos.com/kampus-tambah-kuota-mahasiswa-miskin/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *