Kampus Swasta-Negeri Berlomba Naik Level

MALANG KOTA – Sejumlah kampus negeri dan swasta di Kota Malang berlomba mengakreditasi program studi (prodi) yang dimiliki. Selain mengejar akreditasi nasional, beberapa kampus juga getol memburu akreditasi berlevel internasional. Tak sekadar mengejar pamor, pengakuan secara internasional tersebut juga memberi manfaat lebih bagi mahasiswanya.

Untuk kampus negeri, ada Universitas Brawijaya (UB) yang hingga akhir tahun 2018 lalu sudah mengakreditasi 19 prodi internasional. Sementara untuk prodi terakreditasi A mencapai 88 persen dari total 171 prodi yang dimiliki. Rektor UB Prof Dr Ir Nuhfil Hanani AR MS menyatakan, 19 program studi internasional ini tersebar di lebih dari empat fakultas. ”Misalnya, ada di fakultas ekonomi dan bisnis,” ujar dia.

Rektor yang juga mantan dekan fakultas pertanian ini menjelaskan, kampus yang siap menuju World Class University harus memiliki minimal prodi yang terakreditasi internasional sebesar 35 persen. ”Begitu juga dengan kampus swasta, kalau siap naik kelas dunia, setiap tahun prodi yang terakreditasi A, harus naik kelas,” ujarnya. Rencana ke depan, prodi yang sudah terakreditasi A bisa masuk ke level internasional. Minimal, 50 persen program studi bisa terakreditasi internasional.

Sementara di Universitas Negeri Malang (UM), ada 117 program studi. Untuk yang sudah terakreditasi A mencapai 54 prodi. ”Rencana di tahun 2019 ini, tentu selain membuka prodi baru, untuk prodi akreditasi B sudah siap dinaikkan ke level A,” kata Rektor UM Prof Dr AH Rofi’uddin. Dia memastikan, beberapa prodi sudah menyiapkan draf agar bisa meraih akreditasi internasional.

Rofi’uddin menyatakan, untuk akreditasi B ada 48 prodi. Sedangkan yang masuk akreditasi C ada tiga prodi. ”Kami fokus pada prodi B dulu. Ada selisih tipis antara A dan B. Jadi, internasionalisasi ini ada, hanya masih nanti,” kata dia.

Untuk kampus swasta, di penghujung 2018 ada Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang sudah mengakreditasi tiga prodi mereka. Yakni prodi pendidikan biologi dari fakultas matematika dan IPA (FMIPA), prodi manajemen dari fakultas ekonomi dan bisnis (FEB), dan prodi peternakan fakultas pertanian dan peternakan (FPP). ”Akreditasi yang didapatkan tiga prodi ini setingkat Asia,” ujar Wakil Rektor I UMM Prof Dr Syamsul Arifin. Dia menyatakan, ketiga prodi tersebut mendapatkan pengakuan untuk memiliki keselarasan, terutama dalam bidang jasa pendidikan dan jaminan mutu di tingkat Asia Tenggara.

Sementara Rektor UMM Dr Fauzan lebih rinci menambahkan, ketiga program studi ini diakreditasi melalui ASEAN University Network-Quality Assurance atau AUN-QA. ”Untuk level Asia, memang melalui AUN-QA ini,” kata Fauzan.

Penilaian AUN-QA, Fauzan menyatakan, mengacu pada standar akreditasi internasional yang disusun pakar-pakar quality assurance ASEAN. ”Ada keuntungannya kalau terakreditasi internasional. Mahasiswanya dapat mengikuti program kredit transfer dengan universitas-universitas anggota AUN-QA lainnya,” jelas dia. Program studi terakreditasi internasional tak cuma mandek di tiga prodi tersebut. Fauzan menyatakan, akan menambah tiga prodi lagi untuk didaftarkan ke jenjang internasional.

Kejar Pamor Bisa Capek Sendiri

Bagi sejumlah kampus swasta di Kota Malang, memiliki prodi terakreditasi internasional tentu menjadi ambisi yang ingin dicapai. Karena selain pamor kampus bakal naik, hal itu juga membuka peluang kerja yang lebih luas bagi para lulusannya. Hanya saja, hingga saat masih banyak kampus yang belum berani mengambil langkah tersebut.

”Hanya kampus swasta besar yang dananya besar saja yang bisa mengakreditasi internasional,” kata ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) Dr H. Suko Wiyono. Hingga saat ini, masih banyak kampus swasta yang berkutat dengan upgrade akreditasi prodi dari B menjadi A.

”Malah prodi C juga masih banyak. Karena akreditasi ini juga tidak murah. Jadi, fokusnya swasta ya dari B ke A dulu,” ujar Suko. Apalagi, fokus kampus swasta terkait program studi ini sementara menambah prodi baru yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

”Kalau ngotot mengakreditasi jurusan yang sepi, juga capek sendiri. Kampus swasta lebih suka menganalisis mana saja jurusan yang menguntungkan, diakreditasi dulu sampai A,” ujar dia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *