Cerita dari Jepang Pengulas Buku Tere Liye, Agi: Masakan Jepang Jarang Pakai Penyedap Rasa

SURYA.co.id | Masih ingat dengan lomba mengulas buku Tere Liye, yang hadiahnya tur ke Jepang beberapa waktu lalu?

M Ginanjar Eka Arli (Agi) membagi pengalaman jalan-jalan gratisnya di Jepang.

Perjalanan itu mengesankan yang awalnya tidak ia duga.

Agi menjadi juara pertama lomba mengulas buku Tere Liye dengan judul Komet Minor, Komet, dan Ceros dan Batozar.

Mendapat hadiah dua tiket tur ke Negeri Matahari Terbit, Jepang.

Agi berangkat ke Bandara Soekarno-Hatta. Mereka berkumpul sebelum pemberangkatan, Rabu (4/9/2019).

Sebagai orang yang belum pernah ke Jepang, Agi merasa senang bisa mendapat tiket tur gratis dari lomba yang diikutinya.

Berangkat dengan ibunya, Nurlia (52) dan menjelajah berbagai tempat di Jepang.

Perjalanan dilakukan ke berbagai tempat, yaitu Kamakura, Gotemba, Kawaguchiko, Gunung Fuji, dan Tokyo.

Ia mengaku senang menaiki Gunung Fuji, karena gunung ini dianggap ikon negara Jepang.

Mencicipi sushi mentah, yang ternyata benar-benar mentah. Hanya ia belum sempat merasakan ramen karena kebanyakan nonhalal.

“Di Jepang jarang dipakai penyedap¬†rasa, micin, dan sebagainya. Jadi kalau ada makanan yang manis, biasanya memang bawaan bahan dasarnya. Walaupun kebanyakan hambar dan rada tawar sih. Itu adalah resep sehat mereka,” kata Agi, Sabtu (4/7/2020).

Saat itu, ia juga kali pertama melihat patung Gundam setinggi bangunan enam lantai. Melihat pohon sakura dan mengetahui budaya baca buku orang Jepang.

Ia berpendapat jika membaca buku dilakukan orang jepang untuk mengisi waktu luang. Membaca buku di tempat umum seperti di kereta adalah hal biasa.

Agi juga menyempatkan pergi ke toko buku di Shibuya dan Kinokuniya di Shinjuku.

Ia berburu oleh-oleh di Odaiba juga berbelanja di Daisho asli Jepang.

Meski demikian, ia sempat kesulitan komunikasi karena banyak dari mereka tidak bisa bahasa Inggris sehingga ia harus menggerak-gerakkan anggota tubuhnya untuk berkomunikasi.

Namun anehnya, di beberapa pusat grosir, karyawan mereka justru bisa berbahasa Indonesia.

Ia terkesan, di Jepang ada budaya unik, yaitu terdapat hari sampah tertentu.

Misalnya, Senin hari sampah plastik, Selasa hari sampah organik, dan lainnya sehingga petugas kebersihan akan dimudahkan dalam memilah sampah.

Dulu saat berkuliah, ia sempat menulis 100 keinginan dan salah satunya pergi ke Jepang.

Saat kecil Agi biasa membaca komik sehingga menjadikan Jepang sebagai destinasi yang wajib ia dikunjungi. Akhirnya satu keinginanya tercapai.

Khoirul Muttaqin/Mahasiswa Jurusan Pendidikan Luar Sekolah/Universitas Negeri Malang/ khoirulmuttaqin15@gmail.com

sumber dari: https://surabaya.tribunnews.com/2020/08/09/cerita-dari-jepang-pengulas-buku-tere-liye-agi-masakan-jepang-jarang-pakai-penyedap-rasa?page=all

Leave a Reply

Your email address will not be published.