Mahasiswa UM Berdayakan Warga Desa Kucur Lewat Wirausaha Furniture

Mahasiswa UM Berdayakan Warga Desa Kucur Lewat Wirausaha Furniture

SURYAMALANG.COM, KLOJEN –¬†Maria Carolina Yuaniar, mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) merasa senang dua PKM (Program Kreatifitas Mahasiswa) nya lolos didanai Kemenristekdikti.

“Semua PKM pengabdian masyarakat,” jelas Lina, panggilan akrabnya kepada SURYAMALANG.COM, Minggu (3/6/2018).

PKM pertama di Desa Kucur, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang yang memberdayakan perekonomian warga desa denga wirausaha bidang furniture.

Mahasiswa UM Berdayakan Warga Desa Kucur Lewat Wirausaha Furniture

IST//Pelatihan teknik kerja furniture kayu dan technopreneur buat karang taruna Desa Kucur, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang oleh mahasiswa UM.

Sedang yang kedua berupa pengabdian masyarakat lewat program ipal cerdas untuk mewujudkan Kota Malang bebas kumuh 100 persen pada 2019.

Untuk di Desa Kucur, Lina bersama mahasiswa Teknik Sipil UM lainnya yaitu Dyah Ayu Pangastuti Ardiani, Mochammad Komaruddin Zuhdi, Yusril Dwi Ihza Mahendra, M Nofrin membuat program PETE JATAYU. Ini singkatan dari Pelatihan Teknik Kerja Furniture Kayu) dan technopreneur.

“Sebagian besar warga desanya bekerja sebagau tukang bangunan atau tukang di bidang pengolahan produk kayu,” jelas Lina.

Di satu sisi, sumber daya alam ( SDA) disana mencukupi. Seperti banyak pohon mahoni, waru, bambu. Namun nyatanya banyak yang hanya jadi tukang.

Untuk itu, mahasiswa mengadakan pelatihan buat warga desa penghasil kayu ini. Pelatihan ini diawali dengan pelatihan desain 2D agar pelaksanaan teknik kerja kayu dapat dimaksimalkan.

“Dalam Pelatihan Desain, karang taruna diajarkan tentang bagaimana memvisualisasikan keinginan konsumen dan bagaimana merancang desain untuk dapat dikerjakan,”jelas Lina.

Tujuannya agar menambah nilai plus jika nantinya masyarakat membuka usaha mebeler. Selanjutnya mereka diajarkan untuk teknik kerja kayu, yakni diajarkan penggunaan alat yang sekarang sudah canggih digunakan para usaha besar furniture. Juga diajarkan pemotongan kayu dengan rapi dan juga safety dalam bekerja.

“Kami juga mengajarkan mereka technopreneur, yaitu mengedepankan bagaimana cara agar dapat menjalankan usaha dengan lancar dan dapat bersaing dengan perusahan mebel lainnya,” papar Lina.

Pada sisi ini, mereka dibekali pengetahuan untuk dapat menghitung rancangan anggaran biaya suatu desain.

“Serta penggunaan media sosial agar bisa terakses publik,” jelasnya.

Sarana pemasaran online juga dikenalkan seperti website dan toko online. Setelah pelatihan tersebut, mereka dibekali alat penunjang dan mitra kerja sama dengan perusahaan mebel yang diharapkan menjadi modal utama untuk berkembangnya usaha yang akan dilakukan.

“Dua pekan setelah pelatihan, karang taruna desa mengadakan pembuatan produk furniture untuk pesanan sekolah TK setempat dengan menggunakan fasilitas yang diberikan pada program JATAYU,” tambahnya.

Nantinya, seluruh produk akan di pamerkan pada acara bina desa pada Juli 2018 yang dihadiri oleh Bupati Malang. ia berharap program ini bisa terus meningkat agar mengangkat perenomia warga desa.

Sementara lewat PKM juga dilakukan program sanitasi layak melalui ipal cerdas. Sasarannya adalah kawasan sepajang pemukiman sungai di Kelurahan Kotalama, Kota Malang. Di Kota Malang ada delapan kelurahan yang sistem sanitasinya belum diterapkan dengan baik.

Di sana masih ditemukan membuang sampah ke sungai dan buang air besar karena tidak memiliki septictank. Sasaran pelatihan adalah karang taruna Kebalen Wetan. Nama programnya SIANIDA (Sistem IPAL dan Sanitasi Cerdas) dan Cipta Usaha KOSMATA (Kompos Human Excreta).

Program ini mencakup pemahaman penerapan sanitasi yang layak secara teori maupun lapangan dengan melatih proses pembuatan IPAL (Instalasi Pengelolaan Air Limbah).

“Kami pilih ipal karena hampir seluruh penduduk tidak menggunakan septictank dalam pengelolaan air limbah domestik tiap rumah,” jelas Lina. Jenis ipal yang dipakai adalah sistem IPAL Anaerobic Filter yakni dengan media filter pasir vulkanik dan arang aktif.

Media ini digunakan agar dapat memfilter air secara maksimal, arang aktif guna untuk memfilter air agar lebih jernih lagi dan menghilangkan bau tak sedap dari limbah. Pemakaian media pasir vulkanik, lanjutnya, jarang digunakan pada ipal sejenis.

Sebab jenis ini juga dapat menghemat lahan. Mengingat lokasi yang dituju merupakan lokasi padat penduduk. Selain itu pelatihan proses pembuatan ipal ditabahi dengan sistem pengolahan kompos secara otomatis dengan sensor ultrasonic. Sehingga padatan yang ada pada ipal dapat langsung diolah menjadi kompos cair.

“Jadi tidak perlu lagi ada penyedotan yang setiap tahun seperti yang dilakukan pada ipal biasanya,” kata dia.

Karang taruna juga diajarkan mengenai proses pembuatan starter kompos dari limbah organik padat rumah tangga dan bakteri em4 agar tidak perlu membeli bakteri untuk pembuatan kompos.

Program ini digagas oleh gabungan mahasiswa UM yaitu Maria Carolina Yuaniar (Teknik Sipil), Ardhi Catur Kurniawan (Teknik elektro),Feri Kurniawan (Teknik elektro), Mastika Marisahani Ulfah (biologi) dan Siti Hartinah Qurbayni (kimia). Mereka dibimbing Dr Anie Yulistyorini ST MSc, dosen ahli di bidang teknik lingkungan dan SDA

Sumber dari: http://suryamalang.tribunnews.com/2018/06/03/mahasiswa-um-berdayakan-warga-desa-kucur-lewat-wirausaha-furniture?page=all

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *