Mendalami Kejayaan Singhasari

Mendalami Kejayaan Singhasari, Surya 14 Desember 2017

Mendalami Kejayaan Singhasari, Surya 14 Desember 2017

Download Surya 14 Desember 2017

SINGOSARI – Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Malang menggelar seminar Literasi Singhasari di Hotel Grage Karanglo Singosari, kemarin. Tujuan diselenggarakannya seminar ini untuk menggali lebih dalam lagi budaya dan sejarah yang berkaitan dengan Kerajaan Singhasari di Kabupaten Malang.

Beberapa pemateri yang mengisi seminar itu di antaranya, Arkeolog dari Universitas Negeri Malang (UM) Drs M Dwi Cahyono, Dosen Sejarah Universitas Negeri Surabaya (LINES A),
Drs Hanan Pamungkas M Hum dan Budayawan Cokro Wibowo Sumarsono. Sedangkan para peserta berasal dari para pelajar, mahasiswa dan komunitas.

Kepala Bidang (Kabid) Budaya, Disparbud Kabupaten Malang Ir Edy Purwanto MM mengatakan,
ada banyak hal yang bisa dipelajari dari Kerajaan Singhasari. “Selain dari sisi kesenian dan kebudayaan, Kerajaan Singhasari sangat kuat pada sejarahnya. Salah satunya sejarah sebagai cikal bakal Kebhinekaan,” ujamya kepada Malang Post.

Maka dari itu, dalam seminar tersebut pihaknya sengaja mengambil tema “Kebhinekaan dan Kesatuan Nusantara Kerajaan Singhasari Bagi Kontribusi Nusa dan Bangsa”. Melalui tema itu, bahwasannya Bhineka juga dilahirkan melalui Singhasari. Dengan ditandai adanya relif Garudea yang berada di Candi Jago Tumpang.

“Keberadaan dua candi ini memang memiliki keterikatan sejarah. Dalam seminar, juga didiskusikan hal tersebut,” kata pria ramah ini.
Lebih lanjut dia menjelaskan, melalui literasi semacam ini sebagai upaya menggali data. Sehingga seluruh jalan cerita sejarah mengenai Kerajaan Singhasari diketahui secara utuh dan dikomunikasikan dengan baik.

“Output ke depannya dari literasi ini adalah penulisan sebuah buku. Dimana buku tersebut menjadi sebuah pakem cerita dari Kerajaan Singhasari yang sebenamya,” kata dia. Sementara itu, Koordinator Komunitas Jelajah Jejak Malang, Devan mengatakan, kegiatan ini sekaligus memperingati Hari Sejarah tiap 14 Desember.

Meski hingga saat ini Hari Sejarah tersebut belum ditetapkan secara resmi oleh pemerintah pusat. “Melalui kegiatan ini, juga kami
menyosialisasikan, bahwa sebenamya ada Hari Sejarah yang diperingati tiap 14 Desember. Masyarakat terutama para pemuda harus mengetahui keberadaan Hari Sejarah ini,” ujarnya di tempat yang sama.

Menurutnya, pemerintah seharusnya segera menetapkan Hari Sejarah menjadi agenda nasional. “Tentunya kami menginginkan adanya Hari Sejarah Nasional. Tujuannya, supaya mengenang sejarah bangsa ini. Maka dari itu, melalui kesempatan literasi ini merupakan salah satu upaya dalam memperingati Hari Sejarah,” pungkasnya.(big/lim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *