46 Penulis Pentigraf Terbitkan Buku

46 Penulis Pentigraf Terbitkan Buku, Surya 28 Agustus 2017

46 Penulis Pentigraf Terbitkan Buku, Surya 28 Agustus 2017

Download Surya 28 Agustus 2017

Penghuni Kampung Pentigraf Bertemu di Facebook

MALANG, SURYA  – Geliat gaya baru penulisan cerpen yang hanya dibatasi oleh tlga pargaraf mulai terasa. Pentigraf, akronim dari cerpen tiga paragraf. mulai digandrungi orang. Mereka yang berkarya membuat pentigraf pun berasal dari latar belakang yang beragam, mulai dari guru, ibu mmah tangga, gum, dosen, hlngga Tenaga Kerja Indonesia (TK1) di negeri rantau.

Suasana ramai menghiasi rumah sastrawan Tengsoe Tjahjono, pelopor lahirnya pentigraf di J1 Simpang Dirgantara III B3, No 20 Perum Dirgantara Permai Malang, Minggu (27/8). Di mmah Tengsoe digelar peluncuran buku kumpulan pentigraf karya 46 penulis. Buku itu berJudul ‘Dari Robot Sempuma Sampai Alea Ingin Ke Surga’. DI dalamnya ada 175judul pentigraf.

Para tamu berdatangan dari berbagai daerah. Mereka sebagian besar para penulis pentigraf yang hal itu karyanya diluncurkan.
Seorang penulis yang hadir, Yonas Suharyono (58). la gum di SMPN 1 Cilacap. Empat tulisannya termuat dalam buku itu. “Ini sebagai bentuk rasa terima kasih dan kebang-gaan,” katanva. Minggu (27/8).

Setelah beberapa kali mencoba membuat pentigraf. ia mengatakan membuat pentigraf itu menyenangkan.“Kesulitannya mengungkapkan gagasan dan imajinasi,” akunya.

Selain Yonas. juga ada tulisan TKW asal Jember yang memiliki akun Facebook bernama Zahra Vee. Tulisannya yang berjudul Alea Ingin ke Surga menjadi tulisan penutup dari ratusan Judul pentigraf. “Namun sayangnya sang penulis sulit dihubungi karena berada di Hong Kong.” kata Tengsoe.

Tengsoe menjelaskan, Dari Robot Sempurna Sampai Alea’ Ingin ke Surga adalah buku terbltan pertama komunitas Kampung Pentigraf Indonesia. Beragamnya penulis dalam buku menunjukkan kalau sebenarnya setiap orang memiliki bakat menulis.

“Jadi siapapun bisa menulis. Adanya Facebook. banyak orang yang tahu dan bergabung. Jadi ini semacam kampung digi¬ tal,” terangnya.

Guru besar Fakultas Sastra UM, Prof Djoko Saryono yang juga hadir dalam peluncuran buku itu mengatakan kehadiran pentigraf memberikan warna baru di dunia kesusastraan Indonesia. Apalagi adanya komunitas di Facebook. Prof Djoko mengatakan hal itu bisa bak tarn an literasi yang bisa menampung banyak orang.

“Sehingga di situ banyak sekali orang yang bergabung dan bebas untuk menulis. Pentigraf bisa sangat luas  karena menghuni kampung digital.” ungkapnya.(bnl)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *