MERAYU LANGIT

MERAYU LANGIT, Malang Post 18 Juni 2017.._1

MERAYU LANGIT, Malang Post 18 Juni 2017.._1

MERAYU LANGIT, Malang Post 18 Juni 2017.._1

MERAYU LANGIT, Malang Post 18 Juni 2017.._1

MERAYU LANGIT, Malang Post 18 Juni 2017.._1

MERAYU LANGIT, Malang Post 18 Juni 2017.._1

MERAYU LANGIT, Malang Post 18 Juni 2017.._1

MERAYU LANGIT, Malang Post 18 Juni 2017.._1

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Download Malang Post 18 Juni 2017 (1)

Download Malang Post 18 Juni 2017 (2)
Download Malang Post 18 Juni 2017 (3)
Download Malang Post 18 Juni 2017 (4)

Cerpen : Gunung Mahendra MAHASISWA SASTRA JERMAN UNIVERSITAS NEGERI MALANG

Jalanan lengang. Malahari lenyap.  Langit kelabu – teramat kelabu,nullah. Radian, yang usianya kini menginjak 27 tahun, melangkah gontai di sepanjang jalan yang telah diakrabinya. Jalan yang menghubungkan antara bekas kampusnya dulu dan Square Town Mall. Dua mas jalan kembar yang dipisahkan oleh taman luas penuh rimbunan pepohonan dan rerumputan. Begitu hening. Begitu senyap. Tidak ada denyut kehidupan sedikit pun yang, setidaknya, dapat menentramkan jiwa. Mobil-mobil teronggok di tepian jalan, berbaris. Mulai dari mobil pribadi hingga angkutan kota berwama biru dengan dua kata yang mewakili tujuan dan trayeknya. Di antara embusan nafasnya yang tersengal-sengal dan kedua tangannya yang
mencengkram kedua lengan, menggigil, memori-memori indah yang terukir di benaknya menyemak. Nyaris menyempai sebuah keran air yang, selarna beberapa waktu dibiarkan terlutup, dibuka dengan kecepatan putaran tinggi, sehingga air meluncur deras wriova.

Tertegun, bergeming, dan menganga. Itulah kondisi terkini Radian. Matanya tak lepas sedikitpun menatap bangunan tinggi, besar, nan lebar, bertuliskan Square Town Mall di bagian depannya. Bukan hanya karena semata-mata kenangan yang memenuhi benaknya yang membuatnya terpekur, melainkan juga atas alasan betapa mengenaskannya kondisi bangunan itu sekarang. Runtuh di beberapa bagian. kaca-kacanya pecah, berserakan. Tumpukan benda-benda seperti kristal salju kehitaman membungkus sekujur badan bangunan yang menyimpan segenap kenangan bagi Radian itu. Betapa indah, manis, dan nyaris mustahil untuk dilupakan. Kenangan-kenangan itu kini berkelebatan di kepalanya bagaikan rentetan adegan film yang diputar mundur.

Senyap. Hampa. Hanya digauli embusan angin yang membawa hawa dingin menusuk tulang.“Kumara…” gumamnya. Setelah sekian
menit berdiri, akhimya kedua lutul Radian bergetar. Membuatnya jatuh terduduk dengan kedua lutut mendarat di aspal yang berwama kehitaman. Dengan sesenggukan dan nafas tersengal, kedua tangannya mencengkram tumpukan benda kehitaman yang memenuhi jalan. Kedua tangannya gemetaran hebat.

Kepalanya tertunduk dalam-dalam. Lihatlah, betapa menyesalnya dia. Bahunya bergoncang-goncang. Hatinya teriris. Dadanya sesak. Sebutir airmata muncul di sudut matanya, tertahan selarna sedetik, sebelum akhimya meluncur membasahi kedua pipinya bergantian. Meringis, Radian mengerutukkan gigi. “Andai… andai saja… aku tidak menyia-nyiakanmu.” Keluhnya, yang tidak lagi mampu menghindari rasa sakit paling tak terperikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *