Modal Ijazah SD, Soemantri Jadi Dosen Luar Biasa

Modal Ijazah SD, Soemantri Jadi Dosen Luar Biasa, Malang Post 13 April 2017

Modal Ijazah SD, Soemantri Jadi Dosen Luar Biasa, Malang Post 13 April 2017

Malang Post 13 April 2017

Pensiunan Juru Pelihara Museum Mpu Purwa Menjadi dosen tidak harus bergelar doktor. Soemantri, adalah dosen yang bermodalkan ijazah SD. la ditunjuk sebagai dosen luar biasa Prodi Pendidikan Seni Tari Universitas Negeri Malang sejak 2009.

Jelang masa pensiunnya sebagai juru pelihara di Museum Mpu Purwa pada 2009 lalu, Soemantri mengabdikan diri menjadi dosen luar biasa untuk membagikan ilmu dan pengalamannya kepada para mahasiswa. la tidak malu untuk memperkenalkan diri sebagai orang yang tidak berpendidikan tinggi kepada para mahasiswa yang ia ajar.

Keahliannya sebagai seniman tari dan musik tradisi adalah modal kepercayaan dirinya. “Saya dipercaya untuk mengajar mata kuliah seni tari dan musik tradisi pada mahasiswa semester awal.

Memang banyak mahasiswa yang terlihat meremehkan saya begitu mereka tahu, tapi naluri mengajar saya menjadi dasar dari tekad untuk tetap profesional,” kata dia bercerita.

Soemantri mengajar secara kontrak dalam satu semester. la mengampu tari dan musik tradisi empat kali dalam sepekan. Upayanya untuk tetap diperpanjang kontrak pun tidak mudah. la sadar masih banyak pelaku seni profesional yang juga ingin mempunyai kesempatan mengajar sebagai dosen kontrak. “Apalagi di awal dulu, pas setahun sebelum saya pensiun. Saya harus berfikir cara membagi waktu antara pekerjaan saya menjadi juru pelihara dan mengajar sebagai dosen,” ulasnya.

la yang kala itu mempunyai tanggung jawab mengajar selama delapan jam di museum haras bisa membagi waktu. “Saya atur sendiri waktu kapan haras mengajar dan membersihkan museum. Kalau ada jadwal ngajar sore, sejak pagi saya sudah siap di museum,’’cerita kakek enam cucu ini. Kala itu, ia juga meminta sedikit pengertian pihak prodi untuk tidak memberikannya jadwal kuliah pagi. Karena jadwal pagi tidak bisa diganggu gugat. Pagi saatnya ia bekerja untuk museum.

“Itu cara awal saya pertama agar kontrak saya diperpanjang. Tanggung jawab kepada kedua profesi saya di awal kala itu,” sambungnya. Selain itu, sikap para mahasiswa yang meremehkan dirinya pun tak jarang membuatnya haras sedikit bersabar dan mengelus dada. “Awal mengajar, ada rasa malu juga sebenarnya. Karena saya haras menyesuaikam diri dengan lingkungan perguraan tinggi, dan itu nggak gampang. Dari bahasa, berteori dan bagaimana cara tepat untuk saya mengajar mereka itu, membuat saya haras terus belajar juga.” beber dia.

Soemantri pun bertekad untuk tetap terus berasaha agar bisa dipercaya dan dihargai oleh mahasiswanya. la pun terus berasaha memperluas keahliannya yang bukan hanya sekadar praktik. “Kalau praktik tari dan seni tradisi saja, saya sudah khatam. Tapi kalau segi keilmuan itu yang harus saya perkuat, “ ungkap Soemantri.

Berteori, adalah hal yang ia kembamgkan kala itu. Hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Sebagai pelaku seni yang ia lakoni sejak 1980 an, Soemantri hanya terpaku pada praktik tari dan seni tanpa haras berteori secara keilmuan. Tambahan kemampuan berteori itulah yang ia pelajari sejak saat itu.

“Pihak prodi juga menyuruh saya kalau bisa berteori dan berilmu, malah bagus. Kata-kata itu sesungguhnya membuat saya lebih termotivasi lagi,”ceritanya dengan semangat.

Meski terhitung sudah lanjut usia, ia tetap bersemangat belajar. la bertekad sejak awal menekuni profesi tidak hanya sekadar mengajar tapi juga belajar. “Saya ingin jiwa seni yang melekat ini bisa terus saya amalkan sambil saya belajar,” ungkap pria kelahiran Gondanglegi 63 tahun lalu ini.

la memutuskan untuk belajar teori dari dosen-dosen yang ia temui di kampus. “Setiap ada waktu saya selalu mencuri ilmu kepada mereka yang berilmu,” ungkapnya. Perlahan, ia mulai bisa bertutur kata dan berteori di depan kelas.

Soemantri mendapatkan gelar dosen luar biasa setelah ia lolos verifikasi dengan piagam -piagam prestasinya sejak ia bergelut di dunia seni otodidak. Piagam penghargaan prestasi mulai dari tingkat kota hingga nasional menjadi saksi keahliannya. (Sintha Indra/han)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *