Getol Perjuangkan Bahasa Indonesia Menjadi Bahasa Internasional

Getol Perjuangkan Bahasa Indonesia Menjadi Bahasa Internasional, Jawa Post Radar Malang 9 April 2017

Getol Perjuangkan Bahasa Indonesia Menjadi Bahasa Internasional, Jawa Post Radar Malang 9 April 2017

Getol Perjuangkan Bahasa Indonesia Menjadi Bahasa Internasional, Jawa Post Radar Malang 9 April 2017

Getol Perjuangkan Bahasa Indonesia Menjadi Bahasa Internasional, Jawa Post Radar Malang 9 April 2017

Jawa Post Radar Malang 9 April 2017 (1)

Jawa Post Radar Malang 9 April 2017 (2)

Gatut Susanto Raih Penghargaan Akademik dari Walailak University Thailand

Getol Perjuangkan Bahasa Indonesia Menjadi Bahasa Internasional

Prestasi internasional diukir Direktur Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA)  Universitas Neged Malang (UM) Gatut Susanto. Dia baru saja meraih penghargaan akademik dari Walailak University Thailand.

DITEMUI di Kafe Pustaka UM, Senin lalu (3/4), Gatut Susanto baru saja menuntaskan jam kuliah yang dia emban. Meski demikian, beberapa mahasiswa tampak sarins berkonsultasi soal skripsi. Gatut meladeni dengan sabar para mahasiswanya. Setelah itu, dia mulaimenceritakan penghargaan yang dia terima di Thailand kepada koran ini.

Penghargaan akademik yang diberikan kepada Gatut sebagai direktur BIPA UM sekaligus penggagas kegiatan kerja Sanaa pembelajaran BIPA dengan Walailak University Thailand sejak 2009 silam. Penghargaan itu diberikan di Thailand, 29 Maret 2017.

Menurut Gatut, penghargaan ini diberikan kepada pihak yang dinilai berjasa terhadap Walailak University. “Saya bangga dan tidak menyangka. Terlebih, saya menjadi satu-satunya perwakilan untuk kerja sama internasional yang mendapat penghargaan akademik itu,” ujarnya

Gatut juga merupakan peraih penghargaan pertama sebagai perwakilan Indonesia dari kampus tersebut. Padahal, lanjutnya, Walailak University juga menjalin kerja sama dengan puluhan kampus lain dari negara-negara yang berbeda.

Dia dipilih karena kerja sama Walailak University dengan BIPA UM dinilai produktif dan konsisten. “Kerja sama itu semula hanya berbentuk pengiriman mahasiswa untuk belajar bahasa Indonesia di Indonesia. Tapi, semakin lama makin berkembang hingga merambah untuk kerja Sama di bidang penelitian, kajian budaya, dan lain-lainnya,” terang pria kelahiran Blitar, 24 April 1968 tersebut.

Selain itu, alumni mahasiswa Walailak University yang mengikuti program BIPA UM dipandang memiliki nilai lebih di Thailand. Mereka ada yang menjadi penerjemah, dosen, guru, pebisnis antar negara, dan lain-lain.

“Adanya kerja sama dengan Indonesia, dalam hal ini BIPA UM membuat program ASEAN Studies Walailak University sehingga eksis di negaranya. Bahkan, menjadi rujukan kampus lain untuk mengembangkan program yang serupa,” ujar bapak satu anak tersebut. Atas perkembangan inilah, Gatut dinilai turut berjasa ikut mengokohkan posisi Walailak University di Thailand. Bukan hanya itu, hasil kerja sama dua pihak ini telah berhasil menerbitkan tiga kamus Bahasa Indonesia-Thai yang menjadi bahan pembelajaran di sana. Termasuk, beberapa buku kumpulan puisi terjemahan.

Gatut menerangkan, kerja sama tersebut berawal saat ada mahasiswa Thailand yang belajar di UM. Dia tertarik dengan pembelajaran bahasa Indonesia. Gatut yang saat itu menjadi bagian dosen pengajar BIPA dikenalkan kepada salah satu dosen Walailak University. “Kami pun berkomunikasi melalui e-mail dan telepon. Mereka tertarik pada konsep pembelajaran BIPA di UM. Lalu, ada delegasi kampus yang ke Malang. Pada akhir 2009 silam, Walailak University mengirim delapan orang angkatan pertama ke sini,” ungkap pria yang tinggal di Villa Puncak Tidar No 11 itu. Program ini pun berjalan hingga sekarang. Setiap tahun, Walailak University mengirimkan belasan mahasiswanya.

Selain itu, program BIPA UM juga mengajar mahasiswa yang berasal dari Amerika Serikat, Myanmar, Vietnam, Korea, Jepang,Uzbekistan, Georgia, Gambia, Etiopia, Afrika Selatan, dan lain-lainnya. Menurut Gatut, BIPA UM termasuk yang tertua di Indonesia karena berdiri sejak 1974 silam.

“Kalau saya sendiri bergabung sejak 1992, ketika lulus S-l Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Malang (sekarang UM). Waktu im dibutuhkan tentor Contemporary South Asia Studies Programme (CSASP),” tutur dosen yang sejak 2010 lalu menjadi Institute Director Critical Language Scholarship-American Councils Program di Indonesia itu.

Menjadi tentor, Gatut merasa senang. Dia pun serius dan terus belajar mengenai ilmu pembelajaran di BIPA. Posisinya diperkuat pada saat ada lowongan dosen yang membutuhkan spesihkasi pembelajaran BIPA pada 1999. ’’Padahal pada saat S-l, saya menekuni seni drama. Tapi, saya menemukan keasyikan di BIPA. Akhirnya tesis dan desertasi saya juga terkait BIPA,” terang pria yang S-2 dan S-3-nya diraih di UM itu. Gatut juga telah menerbitkan satu buku ajar BIPA bersama satu rekannya judulnya Living Indonesia yang menjadi
bahan ajar sejumlah universitas di luar negeri.

Berkat kiprahnya pula, Gatut diminta menjadi pembicara dalam program workshop Critical Language Scholarship (CLS) di Washington DC, Amerika Serikat, 20-22 Februari 2017. Saat itu, Gatut memaparkan pengalamannya dalam mengelola program CLS di Indonesia di hadapan para Institute Director Program CLS dari 14 negara. Di antaranya Azerbaijan, Tiongkok, Indonesia, India, Jepang, Korea,
Maroko, Yordania, dan Rusia. “Dari pertemuan itulah, saya mendapat kesan jika bahasa Indonesia menjadi salah satu bahasa asing yang dianggap penting oleh orang Amerika,” papar alumnus SMAN 1 Talun, Blitar itu.

Selain program CLS di Indonesia, suiting dari enam bersaudara itu juga dipercaya melaksanakan program American Councils yang lain. Yakni program Indonesian Overseas Program (IOP) yang merupakan program pembelajaran bahasa dan budaya Indonesia, sejak 2013 lalu. Kemudian mulai 2015 lalu, pria murah senyum itu juga menjadi koordinator di Indonesia untuk program Youth South East Asian Leadership Initiative Professional Fellows Program (YSEALI PEP) di bidang pemberdayaan ekonomi (economic empowerment) berkolaborasi dengan Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk Indonesia di Jakarta.

Bahkan, pada 21 Maret 2018 mendatang, Gatut diundang menjadi salah satu peserta aktifUnited Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) Chair atau diskusi terbatas yang melibatkan 13 universitas di Asia, Eropa, dan Amerika yang diadakan di Brasil.

Topik yang dibahas yakni Language Policies for Multilingualism atau kebijakan bahasa. “Saya juga berjuang agar bahasa Indonesia bisa diterima menjadi bahasa internasional, salah satunya melalui UNESCO,” ujar pria yang juga pengurus pusat AUliasi Pengajar dan Penggiat
BIPA di Indonesia itu. (*/c2/lid)


 

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *