Merasa Salah Jurusan, Sekarang Makin Cinta Seni

Koreografer Tari Kontemporer Ferry Nur Cahyo, Malang Post 26 Februari 2017

Koreografer Tari Kontemporer Ferry Nur Cahyo, Malang Post 26 Februari 2017

Malang Post 26 Februari 2017

Koreografer Tari Kontemporer Ferry Nur Cahyo

Merasa Salah Jurusan, Sekarang Makin Cinta Seni

Saat kuliah, banyak mahasiswa mengalami fase “salah masuk” jurusan atau merasa tidak mcnyukai jurusan yang dipilih. Kondisi ini kemudian mengantarkan mereka pada keputusan untuk pindah jurusan lain yang diinginkan, sehingga harus mengulang kembali
dari semester pertama dan membuang waktu.

Jika ada yang punya perasaan seperti itu, hams berpikir lagi dua kali, siapa tahu keputusan konsisten pada jurusan pertama yang dipilih sebenamya adalah keputusan terbaik. Hanya membutuhkan proses saja untuk merasakannya. Seperti yang dialamiFeny Nur Cahyo, koreografer tari kontemporer andal Kota Malang yang sempat merasa salah jurusan tetapi tidak memutuskan untuk pindah dan menyerah.

“Saya dulu sama sekali tidak tertarik dengan seni tari. Saya maunya masuk seni musik, itu aja,” ungkap Ferry yang pemah menjadi koreografer dalam acara Adi Karya Joko Roro Kabupaten Malang Dinas Pariwisata Kabupaten Malang, 2014 silam.

Pria kelahiran  1990 ini meneruskan, awalnya ia tidak menghendaki sama sekali untuk berkecimpung dalam dunia tari. Namun karena saat itu tidak ada jurusan seni musik mumi, maka ia mengikuti saran feman untuk masukjurusan seni tari dan musik di Universitas Negeri Malang (UM).

Ferry pun mengikuti saran itu dan mengambil jurusan tersebut. la berpikir, walaupun tidak ada unsur tari, ia tetap
bisa mempelajari seni musik. Akan tetapi, di tengah perjalanan kuliah, Ferry sempat merasa frustasi dan ingin pindah jurusan. “Saya sudah ingin pindah jurusan. Kok tidak seperti yang saya harapkan, kenapa malah banyak menarinya,” papar pria kelahiran Jember kepada Malang Post, Sabtu (25/2).

Keinginan untuk berhenti atau pindah jurusan tersebut kemudian teredam oleh nasihat sang ibunda. Pada waktu itu, Ferry diberi wejangan oleh ibunya untuk tetap melanjutkan apa yang sudah dimulai dan tidak menyerah.

Wejangan tersebutlah yang kemudian membuat Ferry tetap bertahan untuk menyelesaikan studi di jurusan seni tari. Sejak dari situlah ia mulai menemukan celah demi celah dalam dirinya untuk mencintai dunia tari dan seluk beluknya.

“Memberi kesempatan untuk mencintai sesuatu. Kita tidak tahu sebelum mencoba, saya tidak akan tahu jika saya tidak bertahan,” imbuh pria yang saat ini sedang melanjutkan studi pascasarjana di Prodi Penciptaan Tari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Kecintaanya pada seni tari kemudian berkembang lebih spesifik pada tari kontemporer. Dari berbagai macam jenis tari, menurut Ferry, tari kontemporer lah yang paling menarik hatinya. la mangakin dirinya termasuk kategoti pemuda dengan jiwa pemberontak dan bebas.

Tari kontemporer, di satu sisi merupakan seni tari modern yang merupakan pengembangan dari tarian asal atau adat, tetapi dipadukan dengan gerakan-gerakan surealis dan modem. “Istilahnya bebas ya, tetapi masih dalam konsep,” tandasnya.

Ia yang pernah menjadi Koreografer dalam acara Pemilihan Duta Musium tahun 2015 yang diselenggarakan Paguyuban Joko Roro Dinas Pariwisata Kota Malang ini menganggap, jiwa bebasnya dapat tersalurkan dalam tiap konsep dalam tari kontemporer. Kreativitas Ferry dalam menciptakan konsep koreografi mulai terlihat ketika dia dipercayai oleh teman-teman kampusnya, untuk menciptakan tarian penyambutan mahasiswa barn di tahun 2012. Dari situ, ia semakin percaya diri.

Bahkan, hasil koreografer Ferry berjudul “Hasut” sempat dipentaskan dalam rangka memperingati Hari Tari Se Dunia Tahun 2016 di

Pengalaman berseni tari pun juga sempat membawa Ferry menyebrang ke Teater Besar Institut Seni Indonesia Surakarta. negara lain. Salah satunya menjadi peserta mewakili Indonesia dalam program Pengiriman Pegiat Budaya ke New Zealand tahun 2016 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerjasama dengan BKLN dan Auckland University of Technology

“Di sana selama  3 minggu. Selain memperkenalkan tarian Indonesia, kami juga belajar seluk beluk tarian mereka. Salah satunya tarian tradisional mereka yang disebut Haka,” beber pria yang berkediaman di Jalan Terusan Bendungan Sigura-Gura Perum Pondok Harapan Indah ini.

Lebih lanjut Ferry menceritakan, pengalaman berbagi konsep tari dengan seniman tari dari negara lain memberikan
dirinya pemikiran lebih luas lagi soal dunia tari. Menurutnya, dunia tari merupakan dunia tanpa batas dalam meluapkan ekspresi, aspirasi dan pemikiran sendiri. Sebuah tarian dapat membuka jati diri
seseorang akan kepeduliannya terhadap sesama dan alam,

“Sekarang tetap belajar terns. Orang seni itu ya belajar terns tanpa ada hentinya, mengikuti perkembangan zaman dan harus paham isu agar pesan dalam tarian dapat tersampaikan,” pungkas pria yang sempat terpilih sebagai peserta Sasikirana Dance Camp NuArt Sculpture Park Bandung, yang diikuti negara lain seperti Singapura,Thailand dan USA tahun lalu.(sisca angelina/han)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *