Meramu Model Konseling Berbasis Budaya Nusantara KIPAS (Konseling Intensif Progresif Adaptif Stmktur)

Meramu Model Konseling  Berbasis Budaya Nusantara  KIPAS (Konseling Intensif  Progresif Adaptif Stmktur), Jawa Pos Radar Malang, 28 Februari 2017

Meramu Model Konseling Berbasis Budaya Nusantara KIPAS (Konseling Intensif Progresif Adaptif Stmktur), Jawa Pos Radar Malang, 28 Februari 2017

Jawa Pos Radar Malang, 28 Februari 2017

KONSELING sekolah di Indonesia selama ini masih menjadi momokyang menakutkan bagi siswa. Sebab, mayoritas pada sekolah-sekolah selama ini, ajakan
menjalani konseling adalah kabar buruk, siswa merasa main, tidak gembira, dan basil konselingnya samar-samar antara ada dan tiada.

Berangkat dari hal tersebut, Prof Dr Andi Mappiare A. T. MPd melakukan kajian dan mencari rumusan. “Kami mencari model konseling yang cocok untuk diterapkan di Indonesia,’’ kata pria 64 tahun itu saat geladi bersih pengukuhan guru besar, kemarin.

Andi menjelaskan, konsep konseling sebelumnya lebih mengarah ke behavioral atau memerinci perilaku. Dia mencontohkan, dalam kasus siswa yang dilanda bingung, konseling hanya mendeskripsikan tentang ciri-cirinya seseorangyang sedang bingung dan perilaku orang tersebut. “Konseling selalu ingin agar anak menceritakan masalah atau problem dan hal-hal yang tidak mengenakkan lainnya,” kata dia.

“Padahal, dalam proses konseling, anak-anak harus senang. Konselor pun juga harus membuat siswa lebih semangat
serta hams mencari kelebihan dan hal-hal positif dari siswa,” sambung dia.

Tentang KIPAS, Andi menjelaskan, model ini bertolak pada pandangan bahwa konselor Indonesia menghindari model yang mmit, memerlukan yang ’pantas’ lugas, sederhana, terkelola, praktis, dan bermanfaat untuk semua. ‘Tntinya, pandangan hidup ’pantas’ (seimbang-selaras-serasi) sebagai refleksi dari Pancasila,” ucap dia.

Menumt dia, pandangan kepribadian KIPAS berorientasi dari Psikologi Timur. “Yaitu, positif memandang manusia, kehidupan, dan dalam sebuah situasi pash ada untungnya’ baik sehap hal yang terjadi maupun suatu musibah.
Konselor KIPAS pun lebih fokus pada mencari temuan kekuatan, kelebihan, dan keuntungan di balik masalah dan kelemahan siswa,” papar dia “Akibatnya, siswa merasa aman, nyaman, dan gembira saat menjalani konseling. Bahkan, konselor dan siswa menjadi sama-sama terpelihara martabatnya Dengan demikian, bimbingan dan konseling (BK) sekolah bisa lebih bermartabat,” sambungnya.

Andi menyatakan, konselor hams memosisikan diri di kalangan siswa sebagai kawan, inovator, pamong, abdi, dan suporter. Tema bahasan konseling bersama siswa adalah karakter, idenhtas, pekerjaan, akademik, dan sosial. Proses konseling dibuat menyenangkan dengan langkah-langkah memberikan kabar gembira, integrasi data dan intemalisasi, perencanaan tindakan, aktualisasi rencana, serta selebrasi hingga pemberian sertifikat. “Model konseling ini dirancang bersifat happy eclecticism” tegas guru besar bidang ilmu budaya konseling ini. (c3/dik)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *