Inovasi Pembelajaran Teknik dan Vokasi: Antisipasi terhadap Perubahan Paradigma Belajar,

Inovasi Pembelajaran  Teknik dan Vokasi: Antisipasi  	terhadap  Perubahan  Paradigma Belajar, Jawa Pos Radar Malang 28 Februari 2017

Inovasi Pembelajaran Teknik dan Vokasi: Antisipasi terhadap Perubahan Paradigma Belajar, Jawa Pos Radar Malang 28 Februari 2017

Jawa Pos Radar Malang 28 Februari 2017

PADA umumnya, pengarus utamaan pendidikan pelatihan teknik dan vokasi
(TVET) serta pendidikan di Indonesia selama ini bertumpu pada asumsi dan prediksi pasar kerja. Bahkan, nyaris tidak ada program studi atau program keahlian yang tidak menjanjikan kepada masyarakat untuk bekerja pada peran tertentu (pekerjaan tertentu) setelah lulus pendidikan dan pelatihan.

Sejak 1970-an, perencanaan TVET mengandalkan kebutuhan pasar kerja. Dalam pertengahan dasawarsa kelima atau tahun 2016, lulusan SMK masih menjadi penyumbang terbesar pengangguran di negeri ini. “Oleh karena itu, TVET hams
reinkarnasi. Yakni, menjadikan TVET seperti SMK dan pendidikan vokasi lainnya sebagai rumah inovasi dan kreativitas,” kata Prof Dr Waras Kamdi MPd.

Berangkat dari hal tersebut, Waras menyatakan, perlu dibutuhkan skenario baru dengan reorientasi pendidikan vokasi yang bertumpu pada kekayaan alam Indonesia. “Negara ini kan sangat kaya dengan sumber daya maritim, pariwisata, dan pertanian. Sementara itu, pendidikan SMK dan vokasi untuk hal ini masih minim,” ungkapnya.

Guru besar bidang ilmu teknologi pembelajaran teknik mesin ini melanjutkan, inovasi model TVET di Indonesia dapat ditempuh dengan dua platform. Platform pertama adalah menyempumakan dan memantapkan sekolah-sekolah kejuruan model demand-driven yang sudah berlangsung selama ini dengan standardisasi mutu. Selain itu, bertumpu pada strategi pengembangan kawasan strategis melalui percepatah pengembangan pusat-pusat
pertumbuhan ekonomi wilayah.

“Ciri utama pendidikan dan pelatihan vokasi ini mengedepankan pendekatan Job-Based Learning. Platform ini akan sukses jika didukung kerja sama sekolah dan industri atau dunia usaha formal secara penuh,” papar dia.

Kemudian, platform kedua adalah mengembangkan TVET kreatif dengan model Life-Based Learning sebagai pendidikan alternatif. Ciri utama pendidikan dan pelatihan vokasi ini adalah mengedepankan pendekatan berbasis potensi alam atau kehidupan nyata. “Pendekatan belajar berbasis proyek dominan dalam praktik pembelajarannya,”
ucap dia.

Dengan pembelajaran ini, siswa akan dimasukkan ke realitas kehidupan dunia nyata. Model ini memungkinkan tumbuhnya sekolah menjadi rumah inovasi dan tumbuhnya kreativitas sesuai dengan keunggulan potensi wilayah. “Ciri utama platform kedua ini adalah sekolah meletakkan visi dasar bahwa peserta didik sebagai pribadi yang utuh,” tandas dia. (c3/dik)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *