Didik Nini Thowok Bicara Rias Fantasi Topeng Malangan

Didik Nini Thowok Bicara Rias Fantasi Topeng Malangan, Malang Post 28 Februari 2017

Didik Nini Thowok Bicara Rias Fantasi Topeng Malangan, Malang Post 28 Februari 2017

Didik Nini Thowok Bicara Rias Fantasi Topeng Malangan, Malang Post 28 Februari 2017

Didik Nini Thowok Bicara Rias Fantasi Topeng Malangan, Malang Post 28 Februari 2017

Malang Post 28 Februari 2017 (1)
Malang Post 28 Februari 2017 (2)

MALANG- Keberagaman, toleransi, dan rasa nasional bisa diwujudkan dengan seni dan budaya. Hal tersebut diungkapkan Didik Nini Thowok ditemui usai mengisi  workshop di Fakultas Sastra (FS) Universitas NegeriMalang (UM), Minggu malam lain. Seniman asal Yogyakarta tersebut juga meriibeberkan mengenai keprihatinannya terhadap kebudayaan yang kurang terekspos pada masyarakat. Padahal jika seni dan budaya dapat terus dilestarikan dampak yang didapat sangat besar yakni masyarakat akan bangga menjadi bagian dari bangsa indonesia.

“Seharusnya saluran televisi tidak hanya memajang acara geng motor saja karena itu akan berdampak pada kontaminasi perianaman berfikir masyarakat.

Lebih baik televisi diisi dengan kesenian dan kebudayaan Indonesia. Terlebih jika sekolah-sekolah juga mampu menanamkan seni dan budaya sebagai pelajaran rutin untuk murid,” beber Didik kepada Malang Post.

Sehingga ia menjelaskan perlu adanya kegiatan seni dan budaya yang rutin di lakukan di Indonesia. Jangan hanya terpacu pada satu agenda yang. pelaksanaanya setahun sekali Jika hal itu di lakukan maka secara tidak langsung dapat mengedukasi masyarakat, Karena masyarakat akan lebih terbiasa melihat lalu mulai penasaran dan berakhir, mereka dapat megamati untuk. selanjutnya mencoba. Didik berbagi ilmunya di Gedung Ava dan lab drama FS UM dengan. tema Pengembangan Tata Rias , dan Kostum Berbasis Topeng Malangan. Acara ini diprakarsai oleh Program Studi Seni Tari Dan Musik (PSTM) FS UM. Didik meberi contoh cara rias fantasi dengan Topeng Malang Artinya tata rias dikembangkan dengan merujuk pada salah satu karakter Topeng Malang,

“Untuk pengenalan pada  generasi muda bahwa Topeng Malang itu tidak hanya dapat disajikan sebagai bentuk tata rias-yang konvesional tapi  juga bisa dikembangkan dalam bentuk fashion yang berbasis Malang dengan dengan tidak
menghilangkan rasa atau wujud dari topeng itu sendiri,” beber Dr a. Endang Wara, M.Pd, Repala Program Studi PSTM Jurusan Seni dan Desain FS UM

la juga berharap masyarakat atau generasi muda menjadi lebih suka dengan tradisi sehingga menjadi acuan untuk
pelestarian seni dan budaya.

Pada pelaksanaanya peserta workshop melakukan tata rias langsung. Satu kelompok berisi enam orang dengan sumber ide dari satu topeng yang bisa dikembangkan. Rancangan tata rias lalu dievaluasi langsung
oleh Didik. Setelah ada perbaikan dan masukan barulah kembali dikembangkan dengan tata busananya.

“Peserta yang datang sangat beragam dan dari berbagai daerah. Ada mahasiswa, aktivisvpemilik sanggar tari
dan guru. Mereka antusias untuk mengkreasikan tata rias dan busana tentunya,” papar Ika wahyu widyawati, S.Pd, M.Pd ketua pelaksana.

Ika juga menjelaskan untuk sekarang ini sangat dibutuhkan pengenalan-pengenalan tentang budaya. Sehingga untuk progres ke depan pada bulan April, akan diadakan lomba tari tingkat SD dan SMP. Lalu tata rias dan tata busana kreasi berbasis tradisi malang untuk SMP dari SMA dengan mengacu pada hasil desain rancanganan tata rias dan tata kostum pada workshop tadi. Itulah salah satu upaya untuk menjaga agar seni dan tetap eksis. (mgb/od)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *