Sering Main Gadget, Gampang Bosan Baca Buku

Sering Main Gadget,  Gampang Bosan Baca Buku. Jawa Pos Radar Malang 23 Januari 2017

Sering Main Gadget, Gampang Bosan Baca Buku. Jawa Pos Radar Malang 23 Januari 2017

Sering Main Gadget,  Gampang Bosan Baca Buku. Jawa Pos Radar Malang 23 Januari 2017

Sering Main Gadget, Gampang Bosan Baca Buku. Jawa Pos Radar Malang 23 Januari 2017

 Jawa Pos Radar Malang 23 Januari 2017. 1

Jawa Pos Radar Malang 23 Januari 2017. 2

Sering Main Gadget, Gampang Bosan Baca Buku

“Awalnya saya beri dia gadget biar diam dan tidak rewel. Eh temyata, lama-kelamaan anak saya kecanduan berat bermain gadget. Bahkan, saat bangun tidur, dia langsung minta gadget. Kalau tidak dikasih, ya nangis sampai lama dan berontak,” ungkap perempuan yang berkarir di sebuah perusahaan swasta ini.

Yang membuat dia semakin menyesal, ketika anaknya ber-umur 3 tahun, dia terkesan cuek dengan lingkungan, termasuk kepada kedua orang tuanya. Nah, setelah mencari berbagai referensi untuk menangani anak kecanduan gadget, Widyanti kemudian membelikan mainan bongkar pasang, robotik, lego, dan lain-lainnya.

Sejak saat itulah, Rizki mulai bisa mengurangi bermain gadget. “Meinang belum bisa mening-galkan secara total, tapi sudah lumayan berkurang,” ujarnya.

Namun, saat bersama kedua orang tuanya, Rizki juga masih seeing minta bermain gadget. Namun, ketika ditinggal kerja dan di rumah bersama pembantu rumah tangga (PRT), Rizki kuat tidak bermain gadget. Sebab, dia sudah tabu kalau gadget-nya dibawa kerja oleh kedua orang tuanya. “Sekarang saya sudah sedikitlebihtenang,” ujar Widyanti.

Pengalaman semacam ini juga dialami oleh seorang ibu muda asal Singosari. Dia hingga sekarang masih kewalahan dengan anak laki-lakinya yang barn berumur

2 tahun karena ketagihan bermain gadget. Karena jika dilarang, anaknya akan marah-marah dan berteriak. “Apalagi kalau pas bertamu, ya akhimya saya biarkan bermain gadget biar anteng,” katanya. Nah, setelah diberi gadget, dia bermain game dan bisa anteng dalam waktu lama.

Namun demikian, ada juga orang tua yang memilih tegas untuk membatasi anaknya dalam bermain gadget. Seperti yang di lakukan ibu muda bernarha

AmenitaEka.WargaDusun Areng-Areng, Desa Dadaprejo, Keca-matan Junrejo, Kota Batu, ini tidak bisa melarang anaknya yang berumur 5,5 tahun untuk bermain gadget. Karena apabila dilarang, dia khawatir anak berontak dan mencari pelampiasan di luar rumah. “Sulit kalau melarang anak-anak itu bermain (gadget), cukup dibatasi saja. Takutnya kalau dilarang, nanti mereka malah seeing pinjam gadget kepada orang lain. Sebab, saya juga pernah melihat beberapa anak yang seperti itu,” ujarnya.

Kepada anak-anaknya, Amenita mengaku membatasi waktu bermain gadget di saat senggang, selama 10-15 menit. Di samping itu, dia mengaku anaknya juga telah sadar apabila gadget terlalu seeing digunakan akan cepat panas, sehingga mereka segera menyudahi penggunaannya. “Biasanya kalau mau bermain gadget selalu saya peringatkan untuk belajar, makan, salat maupun mengaji terlebih dahulu,” jelas ibu muda ini.

Sementara menurutpara ahli, bahaya anak yang kecanduan bermain gadget itu sangat banyak, baik secara fisik maupun psikis. Sedangkan pakar Pendidikan Anak dari Universitas Negeri Malang (UM) Dr Umi Dayati menyatakan, dampak buruk pertama penggunaan gadget bagi anak-anak adalah konsentrasinya
berubah.

Menumt dia, anak yang terbiasa bermain gadget dengan gradasi warna yang begitu kompleks, menjadikan mereka nantinya akan bosan melihat buku pelajaran. Karena buku pelajaran kebanyakart hanya hitam putih saja. ’’Efeknya, anak kalau belajar maupun membaca selama 10 menit, maka sudah bosan,” terang dia pada Jawa Pos Radar Malang kemarin (22/1).

Pengaruh warna ini tidak langsung instan, tapi dalam jangka panjang. Semisal, anak-anak waktu kecil sudah diberikankebebasan bermain gadget, maka dampaknya nanti akan terlihat pada usia menjelang dia SMP ke jenjang selanjutnya. Ketika melihat buku hitam putih, mereka akan segera merasa bosan.

Dampak lain yang ditimbulkan, menurut Umi, dalam aspek sosialnya. Ruang sosial mereka akan terbatasi dengan adanya gadget. Mereka merasa sudah menemukan keasyikan dalam hidupnya sendiri.

Akibatnya, anak akan kesulitan beradaptasi ketika sudah bersama teman maupun di dalam kehidupan sosial yang lebih luas. “Jadi kecerdasan sosial, kecerdasan intelektual, kecerdasan emosial anak sulit untuk berkembang,” tegasnya.

Dia mehyarankan kepada para orang tua agar serius mengawasi anak-anaknya saat bermain gadget. Jika tidak, maka dampaknya akan berkepanjangan.

Sementara itu, pakar pendidikan UM Prof Dr Bambang Budi Wiyono MPd menyarankan kepada orang tua agar mengalihkan penggunaan gadget sebagai media pendukung dalam pendidikan yang positif.

Karena jika gadget hanya untuk nge-game, jelas saja dampaknya negatif. Menurut dia, salah satu dampak yang jelas dari gadget adalah mengambil sebagian kehidupan anak-anak untuk bercengkerama dengan keluarga dan juga untuk belajar.

Tidak jarang, kecanduan bermain game online juga membuat prestasi belajar mereka berkurang. Sebab, konsentrasinya sudah tidak pada pelajaran. “Kalau di sekolah, mereka ingin segera pulang dan main game online. Demikian juga saat di rumah,” terangnya.

Sebetulnya perkembangan teknologi seperti game ini dapat dialihkan menjadi media pembelajaran yang sangat positif. Untuk itu, dia saat ini sedang menggarap penelitian media pembelajaran yang berbasis teknologi informasi dan komunikasi (TIK) seperti game.
Agar maraknya game online ini tidak sepenuhnya memberikan dampak buruk. Namun, dapat diarahkan pada peningkatan
konsentrasi anak di bangku pendidikan dengan lebih menyenangkan.

Sedangkan psikolog dari Universitas Brawijaya (UB) Ilhamudin SPsi MA menyatakan, kecanduan menggunakan gadget akan berpengaruh pada ke mampuan anak dalam berpikir. Anak-anak dapat terjebak dalam piermasalahan isi pikirannya sendiri. Juga mereka kurang
mampu mengalihkan isi pikirannya, kecuali pada game. “Jika terkoneksi dengan internet, dia berhasrat untuk kembali bermain game’,’ jelasnya.

Selain itu, anak-anak akan kehilangan hasratnya dalam memperluas komunikasi sosialnya, kecuali dengan komunitas gamer saja. Padahal, semestinya anak-anak tidak hanya diperkenalkan dengan satu atau dua ketertarikan aktivitas sosialnya saja, tapi hams lebih luas lagi.
“Nah, jika mereka terjebak dengan game online secara berkepan jangan dengan intensitas waktu yang banyak. Tentu saja, mereka akan kehilangan banyak waktu mengeksplorasi aktivitas sosial lainnya,” imbuh dia.

Secara kematangan emosionalnya, menurut dia, anak-anak yang terjebak menggunakan gadget dapat kehilangan kom-petensi sosialnya. Padahal, kompetensi sosial menjadi sangat penting bagi kematangan interaksi anak-anak di usia-usia selanjutnya. (viq/kis/c2/lid)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *