Nilai USBN Jadi Penentu Masuk PIN

Malang Post 6 Desember 2016

Malang Post 6 Desember 2016

Malang Post 6 Desember 2016

Nilai USBN Jadi Penentu Masuk PIN

MALANG- Pemerintah mendorong pelaksanaan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) sebagai metode evaluasi capaian belajar siswa menggantikan UN. Meski demikian, basil USBN masih akan sangat penting sebagai syarat mendaftar ke perguruan tinggi.

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Prof. Dr. Muhammad Nasir mengatakan, siswa lulusan SMA/ SMK masih hams tetap menjadikan USBN sebagai prioritas, karena sebagai bahan pertimbangan utama melalui jalur SBMPTN.

Nasir mengimbau kepada siswa SMA/SMK untuk tetap berpikiran bahwa USBN, yang akan ditetapkan pengganti UN sebagai ukuran kemampuan mereka.

Selama ini, UN dianggap tidak penting untuk masuk ke perguruan tinggi, namun Nasir menegaskan UN dianggap tidak penting karena bukan sebagai prioritas masuk perguman tinggi.

“UN selama ini memang dianggap begitu, karena untuk masuk PT karena masih ada tes-tes lagi, tapi tetap sebagai pertimbangan,” ungkap Nasir ditemui usai berbicara dalam seminar di UM, kemarin.

Seperti diketahui, sejak tahun 2015, UN tidak lagi dijadikan penentu kelulusan siswa pada suatu jenjang pendidikan. Dan di tahun 2017 mendatang,Kemendikbud mendorong terlaksananya USBN yang diselenggarakan oleh setiap satuan pendidikan/sekolah dengan mengacu pada standar nasional. Nantinya, ujar Mendikbud, kelulusan siswa akan ditentukan oleh tiap-tiap sekolah dengan staridar nasional yang ditetapkan pemerintah pusat. Standar tersebut merupakan basil kajian yang telah disesuaikan dengan basil pemetaan yang diperoleh dari UN di tahun-tahun sebelumnya. Melalui moratorium UN dan mengalihkannya ke USBN, Kemendikbud berupaya membangun sebuah sistem dan instrumen sertifikasi capaian
pembelajaran yang kredibel dan reliabel.

Menurut Nasir, USBN memiliki fungsi sebagai bahan pertimbangan, karena kualitas
individu yang dipertimbangkan melalui ujian berstandar nasional ini.

“USBN ini kan diharapkan berfungsi sebagai tolok ukur atau indikator kualitas individu, jadi fiingsinya ya sebagai pertimbangan untuk masuk jalur tadi,” jelas Nasir.

la menginginkan peran akademisi dari perguman tinggi, yang juga mempunyai standar nasional baik, ditandai dengan adanya siswa dengan nilai USBN yang tinggi dan berkualitas.

“Walaupun hanya pertimbangan, tapi itu juga ada nilainya. Pertimbangan itu juga sebagian dari prosentase,” papar Nasir. la menambahkan, siswa tidak sehamsnya menganggap remeh tentang adanya USBN sebagai pengganti UN ini.

“Karena ujian berstandar nasional itu bukan sekadar untuk memetakan, tapi juga untuk mengukur kualitas individu siswa,” pungkasnya. (sin/oci)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *