Baru Dipercaya Kembar setelah Menunjukkan KTP

Jawa Post Radar Malang 26 September 2016

Jawa Post Radar Malang 26 September 2016

Jawa Post Radar Malang 26 September 2016

Baru Dipercaya Kembar setelah Menunjukkan KTP

DUA pasangan kembar dampit yang ini, yakni Baharuddin Ichwanun Nur Hidayatulloh dan Reva Nisatul Nur Hidayatulloh berbeda dad yang lain. Mereka tidak menganut kepercayaan Jawa, yakni yang keluar dari rahim duluan yang menjadi adik.
Bahar, sapaan akrabnya menjadi sang kakak meski dia lahir pertama. “Nggak ngikuti Jowo, Mas,” kata lelaki yang saat ini sedang menjalani studi di Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang (UM) ini.
Putra-putri dari pasangan Suwarno dan Titik Dwi Arini tersebut memang pernah dipisah saat kecil dulu. Dalam mitos Jawa, bayi kembar dampit harus dipisah ketika kecil agar  tidak berjodoh ketika dewasa.
“Tapi pemisahan kami tujuannya bukan biar nggak nikah, tetapi biar tidak minum susu ASI (air susu ibu) terns,” jelas Bahar.
Anak kembar yang saat ini tinggal di Perumahan Muara Sarana Indah D/17 Desa Mulyoagung Kecamatan Dau Kabupaten Malang ini mengaku dipisah hingga usia dua tahun. Mereka disapih dengan cara dititipkan di rumah kakek mereka di Kediri. “Jadi gantian, setelah itu baru dilepas minum susu botol,” terang Bahar.
Tidak seperti anak kembar lainnya, Bahar dan Reva diperlakukan seperti saudara biasa oleh orang tuanya. Bila biasanya anak kembar memakai baju kembar saat kecilnya dulu, Bahar mengaku, dia dan kembarannya tidak melakukan hal itu. “Kalau baju, mesti beda. Reva sudah dari kecil disuruh pakai kerudung. Masak aku juga disuruh pake kerudung?,”kata Bahar lantas tertawa.
Selanjutnya, teman-teman Bahar juga tidak percaya dan kaget bila dia dan Reva adalah saudara kembar. Bahkan, teman-temannya menganggap Bahar dan Reva tidak mirip sama sekali dan sempat mengira mereka pacaran. “Teman SMA aja ada yang baru sadar kalau kita ini kembar dan dikira pacaran. Setelah ditunjukin KTP (kartu tanda penduduk) baru mereka percaya,” kata Bahar.
Sementara itu, jika ada pasangan menginginkan bayi kembar ternyata tidak disarankan secara medis. Karena bisa berdampak fatal bagi ibu dan bayi seperti komplikasi pada janin, pendarahan hingga mengancam nyawa ibu dan bayi.” Kelahiran bayikembar ini termasuk tidak normal, sebab janin normalnya hanya bisa diisi dengan satu janin bayi,” kata dokter kandungan RSU Karsa Husada, Kota Batu dr Benny Marchel Mandango. (viq/dia/cl/riq)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *