Flute dari London Pun Jadi Koleksi Prof Maryaeni

Surya 25 Agustus 2016

Surya 25 Agustus 2016

Surya 25 Agustus 2016

Rumah Alat Musik Tradisionai Ala Dosen UM

Flute dari London Pun Jadi Koleksi Prof Maryaeni

Di ruangan berukuran sekitar 3 meter x l0 meter, Prof Dr Maryaeni MPd (55), sedang asyik menata alat musik tradisionai yang jumlahnya ada ratusan buah. Ya, Dosen Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang (UM) ini merelakan sebagian ruangan rumahnya di Jl Bendungan Riam Kanan, Kota Malang untuk dijadikan rumah khusus alat musik tradisionai dari berbagai daerah di Indonesia, dan bahkan ada yang dari negara lain.

MENGENAKAN kaos warna hitam, sesekai Prof Maryaeni mencoba memainkan beberapa alat musik itu. Bisa dikatakan. rumah khusus alat musik tradisionai ini pertama di Kota Malang. Rumah musik ini berbeda dengan Museum Musik Indonesia (MMI). Rumah musik ini khsusus mengolek aneka alat. music tradsional, sedang di MMI selain aneka alat music juga mengoleksi kaset, CD, peralatan production house (PH), dan lainnya.

Alat musik yang dikoleksi Prof Maryaeni itu seperti kecapi, kipa, sape’, angklung, karalas, bongo, jimbe, suling, kendang, cuk, dan masih banyak lagi lainnya. Alat musik itu ada yang diletakkan di atas lemari, ada yang digantung dengan rapi, dan ada pula yang diletakkan di lantai.

Keinginannya untuk memiliki rumah musik tradisionai ini sebenarnya sudah sangat lama. Namun, bam sekarang ia bisa mewujudkan keinginan itu.

Prof Maryaeni memiliki alasan khusus untuk membuat rumah musik tradisional. Yakni ia sangat prihatin dengan anak-anak saat ini yang seolah acuh tak acuh terhadap alat musik tradisional. la sangat khawatir apabila suatu saat nanti, alat musik tradisional yang jenisnyaa beragam ini semakin ditinggalkan dan semakin dilupakan. Karena itu, dari perjuangannya untuk memiliki alat musik tradisionai inilah, muncul ide untuk mendirikan rumah khusus alat musik tradisionai.

“Mumpung saya masih ingat. Karena kekhawatiran saya alat-alat ini tidak akan bertahan lama kalau tidak di-lestarikan dan diperkenalkan oleh anak-anak kita. Kasihan kalau nanti alat musik tradisional ini punah,” tutur dia, Selasa (23/8).

Alat musik tradisionai yang dimiliki ayah dua orang anak ini beragam jenisnya. Soal kepemilikan, diakuinya ada yang didapat dari pemberian temannya, ada juga yang memang ia miliki sejak awal. Semisal, ia menunjukkan alat musik, tradisionai rebab yang ia dapatkan dari kawan seniman di Tuban bernama Hewot.

Ada lagi, kendang berwarna merah marun berusia 80 tahun. Alat musik yang ada sejak 1930-an ini dia dapatkan dari seorang Dosen Sastra bernama Sunoto.

“Ini kendang ini termasuk kesayangan saya. Usianya lebih tua dari saya, dan sampai saat ini masih bisa digunakan serta masih awet,” tutur Maryaeni sembari menunjukkan kendang yang ia letakkan di atas lemari.

Tak hanya alat musik tradisional asli Indonesia, alat musik tradisionai asal London yakni flute juga menjadi koleksi Maryaeni. Flute ini ia dapatkan sekitar tahun 1960. Selain itu juga ada siter yang ia dapatkan tahun 1970.

Maryaeni tak hanya memiliki semua alat musik itu, tetapi dia juga bisa memainkan semuanya. Karena masih baru di-launching Sabtu (20/8), rumah musik tradisionai ini masih sepi dan belum banyak yang tahu keberadaannya.

Saat launching, ada bebeĀ¬ rapa seniman yang menghadiri, di antaranya Didik Mini Thowok, Ki Soleh Tumpang, Memed Choirul (Dosen ISI Jogjakarta), dan lainnya. Di masa mendatang Maryaeni yang juga aktif di bidang kebudayaan akan menjadikan rumah musik tradisionai ini sebagai rumah pembelajaran bagi siapapun. “Akan saya ramaikan dan akan saya ajak anak-anak dari berbagai sekolah untuk belajar alatmusik.di sini,” ujar Maryaeni. (sany eka putri)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *