Jurnalis, Rektor, lalu Menteri

Radar Malang, 28 Juli 2016

Radar Malang, 28 Juli 2016

 

Jurnalis, Rektor, lalu Mentri.2_1

Anaknya Tidak Mau Tinggal di Jakarta_1

Jurnalis, Rektor lalu Menteri

Jurnalis, Rektor lalu Menteri 2

Jurnalis, Rektor lalu Menteri 3

 

 

 

 

.

Jurnalis, Rektor, lalu Menteri

MALANG KOTA – Satu lagi tokoh pendidikan asal Kota Malang yang dipercaya menjadi menteri. Setelah KH Tholchah Hasan (Menteri Agama 1999-2001) dan Prof Dr Malik Fajar (Medniknas 2001-2004), giliranProf Dr Muhadjir Effendy. Kemarin (27/7), mantan Rektor Universitas Muhammadiyah (UMM) ini dilantik oleh Presiden RI Joko Widodo di Istana Presiden menggantikan Anies Baswedan sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Dari data Jaw a Pos Radar Malang, karir Muhadjir begitu moncer sejak mahasiswa. Lihat saja, ketika masih kuliah di Universitas Negeri Malang (UM) pada 1978 silam, dirinya sudah menjadi jurnalis di koran Mingguan Maha¬ siswa Surabaya. Pada 1979, dia bergabung menjadi wartawan di koran Semesta Surabaya.

Setelah itu, dia gabung dengan Mimbar Universitas Brawijaya (1978-1980)*

► Baca Jurnalis… Hal 35               ‘

Anaknya Tidak Mau Tinggal di Jakarta

■ JURNALIS...

Sambungan dari halaman 25

Muhadjir juga mendirikan koran kampus milik UM: Komunikasi. Ketika jadi dosen di UMM, dia mendirikan koran Bestari pada 1986 silam. Bestari hingga saat ini juga masih eksis. “Pak Muhadjir merupakan salah satu jurnalis di koran Mimbar yang cukup aktif. Beliau memang dari keluarga jurnalis,” terangpenulis Djanalis Djanaid, pendiri koran Mimbar.

Karir jurnalistiknya berhenti sejak dia menjadi dosen PNS (pegawai negeri sipil) di UM sekitar tahun 1985 sampai sekarang. Namun begitu, dia masih aktif menulis berbagai artikel di media massa dan buku. Ketika dia diminta membantu mengajar di UMM, karirnya juga meroket. Mengawali dari asisten dosen, pembantu rektor III UMM sejak 1984, pada 1996 jadi pembantu rektor I, hingga pada 2000-2016 jadi rektor UMM.

Melihat prestasi yang sudah dibuat Muhadjir selama ini, Rektor UMM Drs Fauzan MPd tidak begitu heran jika seniornya itu jadi menteri. Apalagi isu jika Muhadjir akan ditunjuk jadi menteri sudah lama terdengar. ”Saya tidak terlalu kaget ketika beliau dipilih menjadi menteri,” jelas Fauzan.

Pagi hari sebelum pelantikan menteri kemarin, Fauzan sempat dihubungi Muhadjir. “Beliau bilang gini, rupanya saya jadi menteri betulan ini,” ungkap Fauzan menirukan Muhadjir.

Fauzan mengatakan, Muhadjir adalah sosok yang memiliki prestasi luar biasa. Selama 16 tahun memimpin, telah membawa UMM sebagai salah satu kampus swasta terbaik di Indonesia. Jumlah mahasiswanya saat ini sekitar 30 ribuan orang juga berkat polesan Muhadjir.

Fauzan berharap, setelah terpilih menjadi menteri, Wakil BPH Universitas Muhammadiyah ini kelak dapat menjalankan tugas dengan baik. “Ya, kita cukup kasih selamat saja, tidak perlu apresiasi yang berlebihan. Pak Muhadjir bukan tipe orang
seperti itu,” jelasnya.

Lantas bagaimana sikap anaknya? Muktarfi Roya Azidan, 11, putra pertama Muhadjir ini mengatakan, sebelumnya dia tidak mengetahui kabar ayahnya terpilih sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI. lustra bocah yang akrab disapa Zidan ini dapat kabar bahwa ayahnya dilantik jadi menteri dari guru-guru di sekolahnya. “Saya diberi tabu Pak Odi (guru Zidan) kalau ayah saya dilantik menjadi Menteri Pendidikan Nasional,” ungkapnya saat ditemui di rumahnya kemarin.

Dia mengaku baru saja pulang sekolah tepat pada saat ayahnya dilantik yaitu pukul 14.00. Dia hanya mengetahui bahwa ayah dan ibunya pergi ke Jakarta sejak Minggu lalu (24/7). “Saya sudah telepon ke Mama (Suryani

Widati), tanya kapan pulang,” ujarnya. “Kalau ayah pulang, saya mau ikut menjemput di bandara sama Pak Sukar (sopir keluarga),” tambahnya.

Bocah kelas 6 SD Muhammadiyah 9 ini mengungkapkan, tidak ingin tinggal di Jakarta
meskipun ayahnya menjadi menteri. Bocah yang sering mendapatkan nilai 100 di mata pelajaran Matematika itu mengaku sudah sering berwisata ke Jakarta seperti Ancol dan Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Namun, dia lebih memilih untuk tinggal di Malang. “Jangan sampai ayah saya nyuruh sekolah di Jakarta. Sebab, saya masih nyaman di Malang dan bersama teman-teman sekolah saya,” ungkapnya.

Zidan mengatakan bangga dengan terpilihnya ayahnya menjadi Menteri Pendidikan Nasional. “Semoga ayah menjadi sosok yang adil, bijaksana, dermawan, dan bisa mengatur seluruh sekolah-sekolah di Indonesia,” jelasnya. “Terutama sekolah saya, adik Seno (SD Sabilillah), dan Tyo (TK Aba),” tambahnya.

Di mata para tetangga, nama Muhadjir sangat harum. Ketua RT 09, RW 04, Kelurahan Jati mulyo, Kecamatan Lowokwaru, Sulaiman mengungkapkan, Muhadjir adalah warganya yang memiliki jiwa sosial yang tinggi. “Di sela-sela kesibukannya, beliau selalu menyempatkan diri untuk mengikuti kegiatan warga,” jelasnya.

Muhadjir juga selalu menjadi donatur untuk membantu kas RT dalam setiap kegiatan warga. “Mau RT-nya siapa, beliau selalu membantu,” ungkapnya.

Selain itu, Sulaiman mengaku, Muhadjir juga aktif dengan menjadi penasihat pada remaja masjid (remas) Asy-Syuura. Remas Asy-Syuura adalah kumpulan remaja kampung dan mahasiswa UMM yang kos di daerah itu. Kegiatan terakhir yang diikuti oleh Muhadjir adalah halal bihalal kampung. “Tiap hari-hari besar agama, beliau selalu mengadakan acara seperti Isra Mikraj dan lain-lain,” jelasnya. (viq/c2/abm)

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *