Berani Ubah Pakem Malah dipilih Dirjen Kebudayaan

Radar malang 27 Juli 2016

Radar malang 27 Juli 2016

27 Juli 2016 Radar Malang Sambumgan_1 Sambumgan Radar malang

Sempat minder kuliah di Jurusan Seni Tari UM, Ferry Cahyo Nugroho menjadi satu-satunya koreografer tari dari Kota Malang yang lolos dalam program Seleksi Pegiat Budaya Direktorat Jenderal (Dirjen) Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI. Dia akan diberangkatkan ke Selandia Baru bersama 55 orang pegiat budaya dari seluruh Indonesia untuk riset kebudayaan di sana.

NURLAYLA RATRI

FERRY begitu semangat saat berbincang soal tari dan koreografi dengan koran ini di Semeru Art Galery, Jumat lain (22/7). Dia mengaku sangat mencintai pekerjaannya sebagai koreografer tari.

Ferry juga bans pengetahuan untuk menciptakan karya tari yang baik Termasuk dengan cara mengikuti Seleksi Pegiat Budaya 2016 yang diadakan oleh Dirjen Kemendikbud RI. “Pada 20 Juni lain, ada broadcast message di grup Seni Tari Karawitan Universitas Negeri Malang (UM) mengenai seleksi  terbuka dari Kemendikbud,” ujar pria 26 tahun tersebut.

Saat membaca syarat-syaratnya, pria kelahiran Jember, 1 Februari 1990 itu tergugah untuk mengirimkan portofolio dirinya. Terlebih saat itu aktivitas sehari-harinya sebagai guru seni budaya di SMPN 7 Malang sedang terhenti karena libur sekolah m

Jadi, istilahnyapas nganggur, dapat tantangan bam,” terang dia. Untuk mendaftar, Ferry mengumpulkan formulir, surat pernyataan, motivation letter, portofolio karya, dan rekomendasi ahli. Untuk rekomendasi ahli, dia peroleh dari mantan dosennya, Kepala Prodi Seni Tari UM Tri Wahyuningtyas.

Setelah diseleksi oleh Ke-mendikbud, peserta yang lolos diumumkan pada 28 Juni.

” Alhamdulillah, temyata nama saya tercantum. Padahal, yang mendaftar lebih dari 800 orang,” tutur pria yang tinggal di Perum Poharin Blok D115 Kelurahan Karangbesuki, Kecamatan Sukun itu. Dan 56 seniman yang bakal berangkat berasal dari tujuh disiplin bidang ilmu seni. Di antaranya bidang tari, musik, film, teater, visual, galeri, dan museum.

Nah, Ferry lolos di bidang tari bersama 9 peserta dari seluruh Indonesia. Dan 10 peserta yang lolos dibagi dalam 3 kategori. Yaitu 3 orang di bidang tari, 5 seniman di bidang koreografi, sedangkan 2 orang dari bidang gabungan tari serta koreografi. “Dari 2 orang itu, salah satunya saya,” kata Ferry.

Dalam laman resmi Kemendikbud tercantum bahwa pemilihan peserta berdasarkan rekam jejak, reputasi kekaryaan, serta kemampuan membangun jejaring seni dalam kerangka memperkuat ekosistem dan kehidupan kreatif secara umum.

Kegiatan ini merupakan usaha meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) kebudayaan. Usai mengikuti kegiatan tersebut, para peserta diharapkan dapat menjadi agen pembaru pada penciptaan karya artistik maupun penggerak seni budaya serta sumber inspirasi.

Oleh Kemendikbud, Ferry dianggap memiliki potensi besar yang bisa menggabungkan tari tradisional dan tari modern. Setidaknya hal itu bisa dilihat dari rekam jejak Ferry.

Dalam kesempatan itu, Ferry mengatakan, dia pernah mengikuti beragam workshop. Salah satunya workshop koreografi tari di Jakarta. Saat itulah dia menyadari bahwa bisa lebih mengembangkan diri sebagai koreografer. “Saat itu terpikir, sebagai koreografer bisa menciptakan karya yang berbeda dari karya orang lain. Saya bisa mengeksplorasi berbagai hal melalui koreografi yang saya boat,” ungkap pria yang juga penari freelance tersebut.

Selain itu, bersama temannya seorang pemusik, dia mulai bereksperimen membuat beberapa koreografi eksperimental. Hingga saat ini sudah belasan karya yang dia hasilkan. Di antaranya yang terbaru berjudul Hasut dan dinentaskan dalam rangka memperingati Hari Tari Sedunia pada 28 April 2016 lalu di teater Besar Institut Seni Indonesia Surakarta, Jawa Tengah. Karya tersebut melibatkan 10 penari dari Malang Raya.

Karya lainnya yakni berjudul Ayah yang memadukan tari dengan teatrikal dan dipentaskan pada 2015 lalu. Selain itu, Ferry juga berperan sebagai koreografer dalam acara Adi Karya Joko Roro Kabupaten Malang 2014 yang diselenggarakan oleh Paguyuban Joko Roro dan Dinas Pariwisata Kabupaten Malang bekerja sama dengan Elfara 999 School of Entertainment.

Kemudian dia membidani koreografi dalam acara Pemilihan Duta Museum 2015 yang juga diselenggarakan oleh Paguyuban Joko Roro dan Dinas Pariwisata Kota Malang.”Karya saya tergolong eksperimental, sehingga banyak penari senior yang masih belum bisa menerima karena dianggap merusak pakem,” jelasnya.

Padahal, dalam eksperimennya, Ferry mengaku lebih bertujuan untuk memberi sentuhan baru serta kemungkinan-kemungkinan gerak tubuh lainnya. Dengan berbagai sentuhan yang diberikan, Ferry berharap memunculkan sisi-sisi lain dari gerakan tari yang selama ini belum diperlihatkan secara maksimal.

Dia mencontohkan, tari Topeng Bapang yang selama ini dipentaskan belum memunculkan kesan jenaka dan badung seperti gambaran dalam kisah Panji. “Saat acara Festival Tari Sedunia,koreografi Tari Bapang itu sayaberi sentuhan modem dance, sehingga lebih menarik,” jelas dia.

Caranya, menurutdia, dengan menambah unsur waving (mengombak) dan spiral yang biasanya dilakukan dalam gerakan break dance. Sehingga gerakan pakem dalam tari tradisional terasa lebih segar dan bam, tapi yang menonton tetap mengetahui bahwa gerakan tersebut berasal dari tari tradisional.

Selama tampil dalam berbagai pertunjukan di Kota Malang, aksinya memang beda dengan yang lain. Meski kini telah menjadi penari dan koreografer, sulung dari tiga bersaudara itu mengaku, awalnya tidak pernah terpikir bakal menggeluti dunia seni tari.

Saat sekolah di SMAN 1 Plaosan, Magetan, dia mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi jalur PMDK (penelusuran minat dan kemampuan) di UM. Saat itu, ada dua pilihan yang bisa diajukan. Pada pilihan pertama, dia memilih jurusan teknik informatika, sedangkan pilihan kedua dibiarkan kosong. “Lalu guru mengingatkan agar diisi untuk jaga-jaga bila tak lolos pilihan pertama,” kenangnya.

Karena menyukai musik dan aktif jadi anggotaband, Ferry ingin masuk jurusan seni musik Sayangnya, di UM belum ada jurusan itu. “Akhimya pilih seni tari karena masih ada hubungannya dengan musik” jelas pria yang juga instruktur dance di Elfara 999 School of Entertainment itu.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *